JAKARTA – Dunia internasional dikejutkan oleh operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro di Caracas, Sabtu (3/1/2025) dini hari waktu setempat. Penangkapan yang dilakukan atas perintah Presiden AS Donald Trump itu segera memantik berbagai spekulasi, mulai dari penegakan hukum hingga kepentingan geopolitik dan energi.
Maduro ditangkap bersama istrinya, Cilia Flores, di kediaman resmi mereka, tak lama setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan dan serbuan militer di ibu kota Venezuela. Keduanya kemudian dibawa ke Amerika Serikat dengan pengawalan ketat.
Senator Partai Republik Mike Lee mengungkapkan bahwa penangkapan tersebut berkaitan langsung dengan aksi militer yang digelar sebelumnya. Ia mengaku mendapat penjelasan langsung dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
“Ia (Marco Rubio) memberi tahu saya bahwa Nicolas Maduro telah ditangkap oleh personel AS untuk diadili atas tuduhan pidana di Amerika Serikat, dan bahwa aksi kinetik yang kita lihat malam ini dikerahkan untuk melindungi dan membela pihak yang melaksanakan surat perintah penangkapan tersebut,” tulis Lee.
Lee menambahkan, langkah tersebut dinilainya sah secara konstitusional. Menurutnya, Presiden AS memiliki kewenangan untuk melindungi personel Amerika dari ancaman nyata.
“Tindakan ini kemungkinan masuk dalam kewenangan inheren presiden untuk melindungi personel AS dari serangan aktual atau yang akan segera terjadi,” lanjutnya.
Sementara itu, Jaksa Agung AS Pamela Bondi menyatakan penangkapan Maduro berkaitan dengan kasus kejahatan serius, termasuk narkoterorisme dan perdagangan senjata. Dalam pernyataan di akun X miliknya, Bondi menegaskan Maduro dan istrinya akan diadili di pengadilan federal New York.
“Nicolas Maduro telah didakwa dengan konspirasi Narkoterorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senjata api dan perangkat destruktif lainnya, dan konspirasi untuk menggunakan senjata mesin dan perangkat destruktif terhadap Amerika Serikat,” ujar Bondi.
Ia menegaskan proses hukum akan dijalankan sepenuhnya di wilayah Amerika Serikat.
“Mereka akan segera menghadapi murka sepenuhnya dari hukum Amerika di tanah Amerika di pengadilan Amerika,” imbuhnya.
Maduro dan Cilia Flores dilaporkan telah mendarat di New York pada Sabtu (3/1/2025) waktu setempat untuk menghadapi dakwaan di Pengadilan Federal Manhattan.
Namun, langkah AS tersebut menuai kritik tajam dari sejumlah negara Amerika Latin. Beberapa pemimpin, termasuk dari Kolombia dan Kuba, menilai penangkapan Maduro sebagai upaya paksa menjatuhkan rezim Venezuela demi membuka jalan bagi kepentingan ekonomi Amerika Serikat.
Kecurigaan itu menguat setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan minat perusahaan minyak dan gas AS untuk berinvestasi besar-besaran di Venezuela.
“Perusahaan-perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat kami, yang terbesar di manapun di dunia ini, akan masuk (ke Venezuela) untuk mengeluarkan investasi miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” ujar Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Florida.
“Mari kita mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” tambahnya.
Penangkapan Presiden Venezuela itu pun kini dipandang bukan sekadar persoalan hukum, melainkan juga bagian dari dinamika kekuasaan global, energi, dan pengaruh Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin.
