Berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926 tidak dapat dipahami semata sebagai peristiwa administratif organisasi keagamaan. Ia adalah puncak dari ikhtiar kolektif ulama Nusantara dalam menjaga kesinambungan tradisi Islam yang moderat, berakar kuat pada akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, serta berpijak pada kedalaman spiritual dan kepekaan sosial. Dalam proses kelahiran itulah, isyarah para ulama memainkan peran penting, dan salah satu figur sentral dalam mata rantai spiritual tersebut adalah Kiai As’ad Syamsul Arifin.
Peran Kiai As’ad Syamsul Arifin tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan restu dan mandat spiritual dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan. Dalam tradisi pesantren, legitimasi ulama tidak hanya bersumber dari kapasitas keilmuan, tetapi juga dari isyarah batin dan amanah spiritual yang diwariskan secara langsung. Melalui jalur inilah, kelahiran NU memperoleh fondasi ruhani yang kuat sebelum ia hadir sebagai jam’iyyah secara formal.
Jejak historis itu dapat ditelusuri dari peristiwa ketika Syaikhona Kholil Bangkalan memberikan mandat kepada Kiai As’ad Syamsul Arifin untuk mengantarkan sebuah tongkat beserta isyarah ayat Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17–23 kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari di Jombang. Tongkat tersebut bukan sekadar benda simbolik, melainkan penanda estafet kepemimpinan dan amanah perjuangan keulamaan. Ayat yang menyertainya mengandung pesan tentang kekuatan, keteguhan, dan tanggung jawab besar dalam memikul amanah umat.
Amanah itu tidak berhenti pada satu peristiwa. Pada akhir tahun 1924, Kiai As’ad Syamsul Arifin kembali dipanggil oleh Syaikhona Kholil untuk mengantarkan tasbih dengan bacaan Asmaul Husna, Ya Jabbar dan Ya Qahhar, kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Dalam menjalankan tugas ini, Kiai As’ad menempuh perjalanan menuju Tebuireng dengan berjalan kaki, disertai laku tirakat berupa puasa total—tidak makan, tidak minum, dan tidak berbicara—hingga bertemu langsung dengan tujuan amanahnya. Laku spiritual ini mencerminkan kedalaman adab, keikhlasan, dan kepatuhan seorang murid kepada gurunya.
Dalam konteks sosial saat itu, laku tirakat Kiai As’ad bahkan sempat disalahpahami oleh sebagian masyarakat. Namun justru di situlah terlihat kontras antara cara pandang rasional-modern dengan tradisi spiritual pesantren yang sarat simbol dan makna batin. Dua rangkaian amanah inilah yang menegaskan bahwa kelahiran NU tidak lahir dari kalkulasi politik atau kepentingan pragmatis, melainkan dari doa, riyadhah, dan kesadaran spiritual para ulama.
Kontribusi Kiai As’ad Syamsul Arifin dalam sejarah NU tidak berhenti pada fase kelahiran. Kesetiaannya kepada NU terpatri secara utuh dalam laku hidup, pendidikan pesantren, dan dawuh-dawuhnya yang diwariskan lintas generasi. Dalam salah satu wasiatnya, beliau menegaskan kesetiaan total kepada NU dengan ungkapan berbahasa Madura: “Ngko’ riya molai deri kolek, tolang, dere, orak, somsom, odik, mate, norok NU,” sebuah pernyataan simbolik bahwa pengabdian kepada NU menyatu dengan seluruh unsur kehidupan hingga akhir hayat. Bahkan beliau menegaskan kepada para santrinya agar tetap berada dalam barisan NU, seraya memberikan jaminan spiritual atas khidmat tersebut.
Kesetiaan ini bukan fanatisme organisasi semata, melainkan manifestasi dari pemahaman mendalam tentang NU sebagai wasilah khidmat jam’iyyah kepada agama dan umat. NU dipandang bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai ruang pengabdian kolektif untuk menjaga akidah, merawat tradisi, dan menegakkan harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Dalam perspektif ini, merawat NU berarti merawat Islam moderat yang berakar kuat pada nilai-nilai keulamaan.
Dalam konteks peringatan satu abad NU, peran Kiai As’ad Syamsul Arifin layak dijadikan refleksi bersama. NU tidak semata-mata bertumpu pada struktur organisasi atau dinamika politik praktis, tetapi berdiri di atas fondasi spiritual Aswaja yang kokoh. Isyarah ulama, laku tirakat, dan simbol-simbol spiritual yang mengiringi kelahirannya menegaskan bahwa NU lahir dari ketulusan niat dan kedalaman ruhani, bukan dari ambisi kekuasaan.
Pelajaran penting dari sejarah ini adalah bahwa menjaga dan merawat agama tidak cukup dengan kecerdasan intelektual dan kemampuan manajerial semata. Ia membutuhkan kedalaman spiritual, adab kepada guru, dan kesetiaan pada nilai-nilai dasar perjuangan. Nilai istiqamah dan khidmat yang dicontohkan Kiai As’ad Syamsul Arifin menjadi pedoman ideologis sekaligus spiritual bagi generasi NU agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya, terlebih di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Karena itu, peringatan satu abad NU seharusnya menjadi momentum untuk menata ulang niat dan memperkuat kembali peran NU sebagai wasilah khidmat kepada agama dan umat. Harlah NU bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan panggilan kesadaran kolektif bahwa kekuatan NU sejati terletak pada kesetiaan terhadap nilai, agama, dan isyarah ulama yang melahirkannya. Dari sanalah NU terus menemukan relevansinya, dari masa ke masa.
*Shahib Labibul Hikam, penulis adalah Ketua Komisariat PMII UIN Sunan Kalijaga
