Kutukan Itu Bernama Erpha

M. Ilyas Faisal Adam

Ketika beribaca tentang Banyuwangi, tak mungkin apabila tidak berbicara mengenai keindahan pariwisata yang terkenal, terutama setelah usaha dari pemerintah daerah untuk mengubah stigma masyarakat luar Banyuwangi yang menganggap bahwa Banyuwangi adalah daerah yang lazim akan ilmu sihirnya atau dikenal santet.

Daerah yang memiliki 20 kelurahan dan 197 desa ini banyak menyimpan keindahan yang khas akan masing-masing kondisi geografisnya. Terutama dalam bidang pertanian dan perkebunan yang terkenal melimpah. Akan tetapi, dibalik suburnya tanah di Banyuwangi masih banyak menyimpan luka dan ketimpangan yang terjadi di masyarakat wilayah desa apalagi desa yang jauh dari pemerintah kabupaten sendiri. Desa di sisi selatan Banyuwangi tak hanya jauh secara pengurusan administrasi, tetapi juga dalam sisi pembangunan ekonomi.

Desa Kendalrejo Dusun Erpha adalah salah satu desa yang selalu menjadi korban dari abainya pemerintah kabupaten sendiri. Dusun Erpha yang terletak dikawasan perhutanan bekas bangsa Eropa ini banyak menyimpan kutukan yang masih mengakar sampai hari ini. Kutukan yang ada di Erpha bukanlah kutukan mistis meski orang menganggap Banyuwangi Kota Santet. Kutukan ini bukan tanpa sebab ada, dan kutukan ini bukanlah kutukan yang datang karena kesalahan nenek moyang masyarakat Erpha. Lebih dari itu, kutukan ini pesan bahwa suara tak dapat menyelematkan mereka selamanya.

Harapan: Bahan Bakar Tahunan Penguasa

Jika kita amati bersama, dari tahun ke tahun kita selalu disuguhkan oleh pola politik dengan dalih pesta rakyat. Pesta yang selalu membuka harapan baru bagi mereka yang sedang mengalami hari-hari dengan banyak harapan. Pesta rakyat yang sering dikenal dengan pemilihan baik kepala daerah, legislatif, ataupun presiden ini seolah memberikan harapan dan peluang bagi mereka yang merasa terabaikan oleh rezim pemerintah periode sebelumnya.

Bacaan Lainnya

Dari hal tersebut, tulisan Emma Goldma seorang Anarko Feminis pada esainya yang berjudul “Anarkisme dan Apa yang di Perjuangkan” membuka tabir dari tujuan pesta rakyat tersebut. Proses Politik adalah niat baik yang berjalan menuju perangkap: kawat yang tarik-menarik, menyanjung, berbohong, dan menipu. Metafora seolah nyata dari apa yang telah ditulis oleh Emma.

Memang tak banyak disadari oleh para penguasa jika pada akhirnya masyarakat yang selalu mereka harapkan suaranya hanya akan lenyap begitu saja di masa pasca pelantikan sampai bertemu lagi di momen pesta demokrasi periode selanjutnya. Ini kejam, tapi sistem bekerja seperti demikian dan berkelanjutan seolah harapan adalah bahan bakar utama untuk mereka tetap bisa berkuasa hingga meninggalkan problematika turunan yang lebih pantas dikenal kutukan.

Banyak problematika yang seolah dibiarkan begitu saja tanpa mau dipertanggungjawabkan atas mandat yang diberikan. Pemerintah dari golongan daerah sampai pusat hanya berkuasa untuk mencari keuntungan bukan dalih pengabdian. Tak sedikit pula masyarakat yang tergolong menjadi bagian dari daerah 3T sering dianggap sebagai masyarakat sampingan yang berbanding terbalik dengan pekerjaan sampingan mereka untuk menunjang kehidupan, tapi malah menjadi bualan belaka bahwa suara mereka berharga untuk penguasa di pesta demokrasi tiap periodenya.

Mereka adalah masyarakat tertinggal dan terlupakan. Mereka adalah masyarakat yang selalu menjadi tempat menaruh harapan tanpa direalisasikan. Satu dari mereka yang tak banyak diketahui adalah mereka hidup tanpa berharap lebih kepada penguasa. Kutukan ini seolah-olah hanya harus terus dirawat seperti halnya tradisi. Agaknya haram jika mereka memiliki cita-cita untuk sejahtera seperti masyarakat desa lainya.

Kutukan Turunan Erpha

Kala itu, tepat satu bulan yang lalu, ketika saya pergi di desa barat Alas Purwo, banyak hal yang membuat saya kaget dan kagum. Dusun Erpha, dusun yang merupakan kawasan perhutan pemerintah kabupaten Banyuwangi ini menjadi dusun yang saya kira pantas jika disebut sebagai dusun terkutuk. Bukan karena mereka menanggung dosa nenek moyang mereka, tetapi kutukan itu adalah kutukan yang disebabkan oleh pemerintah daerah sendiri.

Pemerintah daerah, dari beberapa berita tentang desa Erpha ini saya menemukan banyak sekali kutukan yang dirawat oleh mereka. Slogan “Gemah Ripah Loh Jinawi” masih masuk akal jika ditelisik dengan kondisi tanah dan kesuburan dusun Erpha ini, akan tetapi lain daripada itu, Erpha menerima kutukan janji palsu calon Bupati yang lebih dari lima abad lamanya. Masyarakat dusun Erpha hanya menjadi tempat singgah untuk kembali menyalakan harapan ketika para calon Bupati datang menampung harapan dan berjanji akan melaksanakan.

Ketika sampai di Erpha, yang saya temui nampaknya akan membuat banyak rasa syukur terus diucapkan. Kutukan yang saya kira awalnya hanya pada segi pembangunan, lebih dari itu kutukan keluarga juga tak sedikit mereka rasakan. Banyak dari anak-anak desa Erpha menanggung nasib sama, mereka adalah korban kejahatan orang tua yang tega meninggalkan anak-anaknya untuk memulai nasib lebih baik di desa atau bahkan kota lain diluar dusun Erpha.

Mereka adalah anak-anak korban broken home yang hanya bisa mendengarkan dan melihat melalui media sosial bahwa realitanya adalah mereka adalah satu-satunya anak yang tidak mendapatkan kasih sayang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *