Jujur dari hal tersebut, memori tentang semua kebahagian hari ini seakan diam sejenak untuk pamit beristirahat. Saya kembali bertanya apa yang menjadi akar permasalahan ini?. Dan jika benar ini adalah sebuah kutukan kenapa tidak ada satu ritual harapan untuk menghilangkan?. Sedih tentu saja, karena kita hanya bisa melihat mereka menanggung kutukan turunan secara terus menerus.
Trias Probelmatika Erpha
Apakah ada hal yang menjadi latar belakang penyebab kutukan tersebut?. Tentunya tak banyak yang saya harapkan ketika mengetahui realita ini. Ada beberapa akar masalah yang mencoba saya ulas kenapa kutukan ini bisa terjadi kepada mereka. Kutukan itu lahir dari rangkaian persoalan struktural yang saling menguatkan. Akar permasalahan ini dapat dibaca dari tiga unsur: politik, ekonomi, dan sosial.
Pertama adalah sisi politik, Dusun Erpha hanya menjadi tempat pembuangan janji dan harapan yang apabila diketahuai bahwa Erpha bukanlah ruang kebijakan. Dari setiap periode pemilihan, masyarakat hanya dijadikan objek janji dan harapan yang kemudian setelah pesta demokrasi selesai, mereka kembali dilupakan.
Barangkali dengan letak geografis yang jauh dari pusat pemerintahan membuat dusun Erpha ini tidak memiliki daya tawar politik. Akan tetapi jika ditelisik pada faktanya kebijakan pembangunan lebih berpihak pada wilayah yang dekat dengan pusat kota, sementara dusun-dusun pinggiran seperti Erpha hanya menjadi catatan kaki dalam perencanaan.
Politik di Erpha tidak hadir sebagai alat pembebasan, akan tetapi hanya sebagai mekanisme penjaga nyala api harapan yang hidup saat kampanye kemudian mati secara perlahan setelah kekuasaan diraih.Dalam kondisi ini, negara dan pemerintah daerah gagal menjalankan mandatnya sebagai pelindung dan pelayan rakyat, dan justru menjadi produsen utama dari kutukan yang diwariskan turun-temurun.
Kemudian jika diawal saya menyinggung tentang kondisi anak-anak di Erpha yang ditinggal oleh orang tuanya sehingga hidup hanya bersama kakek neneknya, pada sisi ekonomi inilah kemudian hal tersebut menjawab.
Secara ekonomi, masyarakat Erpha hidup dalam lingkaran ekonomi yang stagnan. Akses terhadap pekerjaan layak sangat terbatas, akan tetapi hasil pertanian dan perkebunan sangat menjajikan meski hanya sebagai penyewa lahan.
Wilayah yang jauh seolah diasingkan ini yang kemudian memperparah situasi, dimana akses untuk kemudian dapat mendistribusikan hasil produksi sulit salah satunya adalah karena infrastruktur minim dan kesempatan usaha hampir tidak ada. Kondisi ini yang kemudian wajar apabila mendorong sebagian orang tua meninggalkan keluarga demi mencari penghidupan di luar dusun, yang pada akhirnya melahirkan generasi anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran dan perlindungan keluarga.
Kemiskinan di Erpha bukanlah takdir semata, melainkan hasil dari ketidakadilan distribusi pembangunan dan pengabaian sturktural terhadap wilayah pinggiran, dan pada faktanya Erpha masih diabaikan dengan harapan.
Kemudian dari sisi sosial, kutukan di Erpha menjelma dalam bentuk relasi yang retak. Keluarga yang tercerai, anak-anak yang tumbuh tanpa figur orang tua, serta komunitas yang terbiasa dengan ketiadaan perhatian negara. Masyarakat disana secara tak sadar seolah dipaksa menormalisasikan penderitaan sebagai bagian dari hidup.
Dalam situasi seperti inilah pada akhirnya harapan tidak tumbuh sebagai cita-cita, akan tetapi hanya menjadi ilusi musiman ketika pejabat datang membawa janji. Struktur sosial yang sering merasakan penderitaan tersebut kemudian terbentuk hingga meninggalkan luka pada generasi muda yang tumbuh tanpa akses pendidikan yang memadai, tanpa ruang partisipasi, dan tanpa keyakinan bahwa masa depan bisa diubah.
*M. Ilyas Faisal Adam, penulis adalah Mahasiswa HTN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
