Perkembangan geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan meningkatnya fragmentasi kekuatan internasional, di mana inisiatif-inisiatif baru bermunculan sebagai respons terhadap konflik berkepanjangan dan ketidakpastian tatanan global. Dalam konteks tersebut, keterlibatan Presiden Prabowo Subianto dalam Board of Peace, sebuah forum internasional yang diprakarsai Amerika Serikat, menjadi momen penting untuk merefleksikan kembali arah dan konsistensi kebijakan luar negeri Indonesia. Peristiwa ini tidak dapat dipahami semata sebagai pilihan individual seorang presiden, melainkan sebagai bagian dari dinamika struktural yang membentuk ruang gerak negara menengah seperti Indonesia.
Selama ini, politik luar negeri Indonesia berlandaskan pada prinsip bebas dan aktif, yang secara normatif dimaksudkan untuk menjaga otonomi strategis sekaligus mendorong kontribusi Indonesia dalam penyelesaian masalah global. Namun, perubahan lingkungan internasional—yang ditandai oleh rivalitas kekuatan besar, konflik bersenjata, dan penggunaan forum multilateral sebagai instrumen pengaruh—membuat penerapan prinsip tersebut menjadi semakin kompleks. Keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace mencerminkan dilema antara mempertahankan jarak dari kepentingan kekuatan besar dan kebutuhan untuk tetap terlibat dalam proses-proses global yang memengaruhi stabilitas internasional.
Dari perspektif kebijakan luar negeri, partisipasi dalam forum yang digagas oleh satu negara besar berpotensi memunculkan persepsi keterikatan, terutama jika forum tersebut membawa kerangka normatif dan agenda politik yang tidak sepenuhnya sejalan dengan posisi tradisional Indonesia. Meskipun kehadiran Indonesia dapat dibaca sebagai upaya berkontribusi pada perdamaian global, langkah ini tetap memunculkan pertanyaan mengenai batas antara keaktifan diplomatik dan ketergantungan struktural. Di sinilah prinsip bebas dan aktif diuji bukan pada tataran retorika, melainkan pada konsistensi praktik dan persepsi internasional.
Implikasi dari kebijakan ini juga terasa pada level regional. Indonesia selama ini memainkan peran penting dalam menjaga sentralitas ASEAN dan menyeimbangkan pengaruh kekuatan besar di kawasan Asia Tenggara. Keterlibatan yang lebih intens dalam inisiatif global yang diasosiasikan dengan satu pusat kekuatan tertentu berpotensi memengaruhi persepsi negara-negara ASEAN terhadap posisi Indonesia. Dalam konteks Indo-Pasifik yang semakin terpolarisasi, setiap sinyal pergeseran orientasi strategis dapat berdampak pada kohesi regional dan ruang diplomasi kolektif ASEAN.
