Karena itu, apa yang terjadi hari ini menunjukkan perubahan besar dalam cara masyarakat memahami bencana. Informasi yang tersebar cepat melalui teknologi digital menjadikan jarak geografis tidak lagi menjadi alasan untuk tidak peduli. Kita menyadari bahwa krisis kemanusiaan bukanlah soal “di mana kejadiannya”, tetapi “kepada siapa kemanusiaan kita berpihak”.
NIMBY perlahan kehilangan relevansinya bukan hanya karena perubahan sosial, tetapi juga karena kesadaran kolektif bahwa risiko adalah bagian dari kehidupan modern. Anthony Giddens menyebut era modern sebagai risk society, di mana semua orang senantiasa berada dalam kemungkinan terdampak oleh peristiwa besar. Kesadaran akan risiko bersama inilah yang mendorong solidaritas melampaui batas.
Membangun Kepedulian Kolektif
Bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar memberikan pelajaran penting bahwa penderitaan seseorang – betapapun jauhnya adalah panggilan moral bagi kita semua. Dalam konteks ini, gotong royong bukan hanya mekanisme bantuan, tetapi juga instrumen pemulihan sosial.
Gerakan solidaritas yang muncul tidak hanya menyuplai logistik, tetapi juga memberikan energi emosional bagi para korban, memperbaiki rasa percaya diri masyarakat terdampak, dan menguatkan kohesi sosial. Indonesia sekali lagi membuktikan bahwa gotong royong bukan sekadar slogan, tetapi identitas kultural yang terus hidup dan bekerja. Karena itu, paham NIMBY yang dulunya mungkin memiliki ruang dalam kehidupan sosial, kini harus ditinggalkan. Dunia telah berubah, dan begitu pula tanggung jawab kita sebagai manusia.
Pada akhirnya, bencana bukan hanya menguji kekuatan infrastruktur, tetapi juga ketahanan nurani. Ketika melihat rumah hanyut, anak-anak menangis ketakutan, atau seorang ibu memeluk sisa-sisa harta yang masih bisa diselamatkan, kita tidak lagi melihat “orang lain”, melainkan cermin dari diri kita sendiri.
Dalam momen seperti itulah, gotong royong bukan hanya pilihan moral, tetapi kebutuhan eksistensial. Kita bergerak karena kita tahu bahwa suatu hari, kita pun mungkin berada di posisi mereka.
Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar mengingatkan kita bahwa kemanusiaan adalah satu-satunya batas yang tidak boleh dihapus. Selama kita memegang erat nilai gotong royong, bangsa ini akan selalu menemukan jalan pulang dari setiap krisis. Karena saat kita memilih untuk peduli, kita tidak hanya menolong mereka yang tertimpa musibah, tetapi juga menjaga martabat kita sebagai manusia.
Sendy Al Thariq Syah, penulis adalah ASN pada Sekretariat Jenderal DPD RI
