Puisi-Puisi Hisyam Billya

Ilustrasi

In the Moon for Love

Dalam mata yang penub cahaya. Tersusup dada penuh darah dan nanah. Seseorang perempuan berkeluh kesah di bawah sinar rembulan.

Seribu jari menudingnya dari masa lalu

”Tidak aku, tidak akan membuka tabir keperawananku”

Langit yang nominous; beberapa helai daun berpusing diterbangkan angin. Ada simfoni purba, perempuan itu menyisir sisi telaga.

Bacaan Lainnya

Ketika ia melangkah, bermata basah

Bukankah cinta bisa melintasi jarak yang jauh

Bukankah rindu mampu menyelinap ke segala penjuru

Ia pun setia menunggu. Pada suatu hari kabarpun sampai, kabut tiba-tiba mengambang di atasnya

Beribu kata, puisi dan tanda cinta

yang hendak disampaikan. Menguap dalam satu tiupan

Condongcatur, 2025

 

Di Pelabuhan Itu

Adakah kau dengan itu, gemuruh ombak yang memperdalam kegaiban-Nya

Berbisiklah angin malam, merendah dari lembah yang jauh

Ketika itu kita mendengar gema-gema

Seorang gadis kecil berlari memasuki rumah yang dingin penuh luka

Gigir cakrawala yang asing tanpa jiwa; melulur angan-angan yang gemerlapan

Laut yang lebih tinggi dari semua ini; melintaskan airnya ke kaki

Ketika itu, kita saling membagi duka

Sebelum pelabuhan bersih dari segala percakapan

Bali, 2025

 

Melepas Ode: Lepas!Lepas! Baleria Indonesia

Selamat pagi Indonesia

yang mengubur masa lalu

Aku lahir dan meneteskan suara darimu; sebagai ruh yang berkalang harum cahaya

Langit, tanah dan bunga-bunga menjadikanku tuan; bersemedi di atas bebatuan

Ku layari sungaimu, Indonesia ku. Seusai hujan 98 mengucur dari langit-langit dendam

Ku daki gunung-gunungmu, Indonesia Ku. Di tengah bebatuan prahara 65 yang cadas itu

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *