In the Moon for Love
Dalam mata yang penub cahaya. Tersusup dada penuh darah dan nanah. Seseorang perempuan berkeluh kesah di bawah sinar rembulan.
Seribu jari menudingnya dari masa lalu
”Tidak aku, tidak akan membuka tabir keperawananku”
Langit yang nominous; beberapa helai daun berpusing diterbangkan angin. Ada simfoni purba, perempuan itu menyisir sisi telaga.
Ketika ia melangkah, bermata basah
Bukankah cinta bisa melintasi jarak yang jauh
Bukankah rindu mampu menyelinap ke segala penjuru
Ia pun setia menunggu. Pada suatu hari kabarpun sampai, kabut tiba-tiba mengambang di atasnya
Beribu kata, puisi dan tanda cinta
yang hendak disampaikan. Menguap dalam satu tiupan
Condongcatur, 2025
Di Pelabuhan Itu
Adakah kau dengan itu, gemuruh ombak yang memperdalam kegaiban-Nya
Berbisiklah angin malam, merendah dari lembah yang jauh
Ketika itu kita mendengar gema-gema
Seorang gadis kecil berlari memasuki rumah yang dingin penuh luka
Gigir cakrawala yang asing tanpa jiwa; melulur angan-angan yang gemerlapan
Laut yang lebih tinggi dari semua ini; melintaskan airnya ke kaki
Ketika itu, kita saling membagi duka
Sebelum pelabuhan bersih dari segala percakapan
Bali, 2025
Melepas Ode: Lepas!Lepas! Baleria Indonesia
Selamat pagi Indonesia
yang mengubur masa lalu
Aku lahir dan meneteskan suara darimu; sebagai ruh yang berkalang harum cahaya
Langit, tanah dan bunga-bunga menjadikanku tuan; bersemedi di atas bebatuan
Ku layari sungaimu, Indonesia ku. Seusai hujan 98 mengucur dari langit-langit dendam
Ku daki gunung-gunungmu, Indonesia Ku. Di tengah bebatuan prahara 65 yang cadas itu
