Aku kemasi kesakitan yang lengking. Dan tulang-tulang yang mengabu darimu
Selamat sore Indonesia
yang berparas surga
Aku tanam seribu mawar, agar merekah bahagia
Ku dendangkan kecapi dan harpa, agar mengalun merdu gema
Padamu semata..
Selamat malam Indonesia
yang tak habis-habisnya gementar, menjalin keabadian
Seorang pemuda menenteng tas, pergi mengoreskan nasib ke arah bintang-bintang
Angin samudramu yang ramah, membuatnya berdansa diantara cemara-cemara.
Selamat pagi, sore dan malam Indonesia.
Nagari yang menyihir darahku,
Aku telusuri sunyi, gegap gempita dan segala macamnya. Atas nama logam, batubara, nikel dan emas yang agung.
Aku rawat dadamu yang menghitam, karena keserakahan.
Aku tengadahkan sepucuk doa. Supaya runtah segenap-genap gelisah.
o..Indonesia lenyaplah duka lara, berdenyutlah sejahtera.
Gemah ripah loh jinawi. Senyum wajah nafas berseri-seri
Solo, 2025
Ritmis Pertemuan
Demi angin yang memperdalam hening
Demi senja yang menembus sela-sela ranting
Dan demi burung gereja yang menangisi matahari,
Rindu yang dahsyat membuatku bersitahan di taman
Kau di ujung jalan, mendekat pelan. Ada semerbak yang turun dari langit,
Lalu kita saling betah berhadapan, terjulai satu sama lain.
Bunga-bunga di taman menyembah kita, aku dan nyawaku penuh gelora
Sunyi menyayat, darah deras mengalir dari mulutku
Di saat yang sama, ada nyanyian kabung bagi segenap rindu
Pada matamu yang terus memandangku
Yogyakarta, 2025
