“Anak muda desa memiliki energi, kreativitas, dan kedekatan langsung dengan persoalan lokal. IPDA mendorong agar mereka berani tampil sebagai penggerak perubahan, bukan sekadar penerima program,” ujar Arifin.
Dari perspektif kebudayaan, Yani Saptohoedojo, Dewan Penasihat IPDA, mengingatkan bahwa pembangunan desa tidak boleh tercerabut dari nilai budaya dan kearifan lokal. Ia menekankan pentingnya menjaga identitas desa agar modernisasi tidak justru menggerus kekuatan sosial yang telah lama menopang kehidupan masyarakat desa.
Sementara itu, akademisi Dr. Untoro Hariadi, M.Si. mengangkat paradoks pembangunan desa di Indonesia yang dinilainya masih menggunakan logika kota. Menurutnya, kecenderungan tersebut berisiko menghilangkan karakter desa, padahal pada saat yang sama masyarakat perkotaan justru mencari kehidupan desa yang lebih berkelanjutan.
Diskusi yang dipandu oleh moderator Kyla Narinta berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta. Forum ini juga dihadiri M. Fauhan Fawaqi, S.IP., M.M., anggota DPRD Kabupaten Kebumen, Ketua IPDA DIY Aji Nurfadilah, S.Sos., serta sejumlah figur publik dan pemuda inspiratif, termasuk Fidelia Prabajati, S.H., M.H., Top 15 Puteri Indonesia 2023.
Melalui Forum Desa Muda Indonesia, IPDA bersama para pemangku kepentingan berharap terbangun kesadaran kolektif untuk menempatkan anak muda desa sebagai aktor strategis pembangunan. Dengan dukungan kebijakan yang berpihak, desa diharapkan mampu tumbuh secara inklusif, berkarakter, dan berkelanjutan tanpa kehilangan jati dirinya.
