Singkatnya, kaum muda nampaknya perlu untuk melakukan tiga disiplin yang disebutkan oleh penulis buku Essentialism: The Disciplined Pursuit of Less, Greg McKeown, yaitu melakukan eksplorasi, eliminasi, dan yang terakhir ialah eksekusi. Dengan begitu, para remaja akan terbiasa untuk hanya memilih sesuatu hal yang esensial bagi dirinya sendiri dan tidak terlalu memikirkan dorongan dari opini-opini liar eksternal.
Selain itu, esensialisme pun memiliki peran penting dalam menekan angka depresi remaja di dunia pendidikan. Dalam konteks ini, sekolah atau lingkungan belajar lainnya dapat berperan sebagai ruang pengakuan esensial yang jauh lebih penting. Guru dan tenaga pendidik lainnya perlu untuk memandang siswa bukan sekadar murid dengan nilai dan target statistik akademik, melainkan individu sebagai pribadi yang memiliki hakikat yang patut dihargai.
Lingkungan belajar yang konstruktif pada dasarnya harus menanamkan pemahaman bahwa setiap individu siswa sangatlah berharga walaupun mereka mengalami kesulitan belajar, konflik sosial, atau problema-problema lainnya. Dengan begitu, akan terciptalah dinding psikologis yang kuat untuk menahan segala bentuk dorongan destruktif terhadap individu-indvidu di sekolah dan lingkungan belajar lainnya.
Jika membaca kembali kasus-kasus bunuh diri akhir-akhir ini, banyak sekali yang dilatarbelakangi oleh tindakan perundungan yang terjadi di lingkungan pendidikan. Ketika seseorang merasakan langsung direndahkan, diejek, atau dirundung secara fisik dan verbal, ia akan cenderung meyakini bahwa nilai dirinya telah hilang.
Padahal dapat dipahami dalam esensialisme, nilai yang terdapat dalam diri seorang individu tidak dapat dicabut atau dihilangkan oleh pihak eksternal. Maka dari itu, esensialisme relevan untuk dipelajari dan dipahami untuk remaja-remaja rentan di Indonesia, yang nantinya mereka akan terbiasa untuk hanya berfokus pada sesuatu yang benar-benar memiliki nilai dan berfungsi baik untuk mereka sendiri dan mengabaikan segala sesuatu yang menekan dari luar dirinya tersebut.
Esensialisme pun perlu untuk disisipkan dalam landasan kebijakan publik, misalnya pemerintah menciptakan dan mengimplementasikan program kesehatan mental untuk remaja yang memuat kurikulum pemulihan makna dan penghargaan esensial terhadap diri sendiri. Kurikulum pendidikan pun musti memberikan kebebasan pengembangan minat dan bakat remaja tanpa perlu memaksa mereka untuk mencetak rekor akademik, cukup berfokus pada proses mereka belajar dan tidak menghakimi hasil akhir yang mereka raih. Dengan begitu tidak akan lagi timbul tekanan berlebih terhadap remaja atas proses mereka dalam menciptakan jati diri sesuai dengan hakikat nilainya masing-masing.
Ringkasnya, dalam upaya menekan angka bunuh diri di kalangan remaja membutuhkan kerja keras dan keseriusan lebih yang melibatkan sektor pendidikan, keluarga, komunitas, hingga negara. Namun semua upaya tersebut memerlukan fondasi filosofis yang jauh lebih kokoh. Agaknya, esensialisme menjadi salah satu landasan filosofis yang memiliki relevansi terhadap upaya memperbaiki erosi kesehatan mental remaja di Indonesia.
Di tengah ombak keputusasaan yang kian hari kian keras menghantam bahtera generasi muda, mempertahankan kesadaran akan esensi manusia menjadi langkah yang paling penting untuk menjaga generasi muda tetap bertahan dan melawan. Setiap manusia memiliki hakikat yang tak bisa tergantikan, dengan menyadari hal tersebut maka kita telah melakukan awal dari upaya kolektif untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Bertahanlah sedikit lebih lama.
*Mohammad Ikhsan Firdaus, penulis adalah Mahasiswa Ilmu Hukum UNUSIA Jakarta
