JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada penutupan perdagangan Rabu, seiring sentimen global yang dipengaruhi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tercatat berada di atas proyeksi pelaku pasar. Kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan mata uang di pasar keuangan, termasuk rupiah.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai penguatan rupiah saat ini tidak terlepas dari respons pasar terhadap data ekonomi AS. Meski demikian, ia memperkirakan pertumbuhan tersebut bersifat sementara karena dipengaruhi faktor teknis.
“Pertumbuhan ekonomi ini diperkirakan hanya insidensil sesaat karena tarikan data yang bergeser akibat shutdown (penutupan pemerintah AS). Ke depan, triwulan IV-2025 pertumbuhan ekonomi AS akan kembali stabil di 3,5 persen,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (24/12/2025).
Pada penutupan perdagangan di Jakarta, rupiah tercatat menguat 22 poin atau 0,13 persen ke level Rp16.765 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.787 per dolar AS. Penguatan ini juga didukung oleh keterlambatan rilis data ekonomi AS yang seharusnya dipublikasikan pada Oktober 2025.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih memusatkan perhatian pada proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada triwulan IV-2025. Rully menilai situasi ini memiliki kemiripan dengan respons pasar terhadap data ekonomi domestik Indonesia.
“Ini mirip-mirip sama pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II yang diumumkan BPS (Badan Pusat Statistik) 5,12 persen yang diragukan pelaku pasar karena melebihi potensinya yang tidak lebih dari 5 persen,” ungkap dia.
Dari sisi domestik, Rully menambahkan bahwa tekanan terhadap rupiah juga berkurang karena kebutuhan dolar oleh sebagian besar korporasi dinilai sudah terpenuhi. Kondisi tersebut menurunkan permintaan terhadap dolar AS di pasar valas.
Sejalan dengan pergerakan rupiah di pasar spot, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga tercatat menguat ke level Rp16.767 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.790 per dolar AS.
