ACEH TAMIANG — Pemerintah mempercepat pemulihan sekolah-sekolah terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang agar kegiatan belajar mengajar dapat segera kembali berjalan secara bertahap dan berkelanjutan.
Sektor pendidikan ditempatkan sebagai prioritas utama karena dinilai berperan penting dalam memulihkan rutinitas masyarakat sekaligus menjaga stabilitas psikososial anak-anak pascabencana.
Kementerian Pekerjaan Umum bekerja sama dengan BUMN Karya dan TNI dalam melakukan pembersihan lumpur serta material sisa banjir di lingkungan sekolah yang terdampak parah.
Kolaborasi lintas sektor ini difokuskan pada percepatan pembersihan ruang kelas dan fasilitas penunjang agar sekolah dapat kembali difungsikan untuk kegiatan pembelajaran.
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk terlibat langsung dalam pembersihan sejumlah sekolah, seperti SMP Negeri 2 Karang Baru, SD Negeri 2 Karang Bundar, dan SD Negeri 1 Karang Baru.
Untuk mempercepat proses, berbagai alat berat dikerahkan, sementara peralatan manual digunakan untuk menjangkau ruang kelas yang sulit diakses.
Pemerintah berharap dengan sekolah kembali beroperasi, proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih normal meski masih dalam keterbatasan.
Wakil Kepala SMP Negeri 2 Karang Baru, Amira, menyampaikan bahwa aktivitas pembelajaran sudah kembali berjalan meski belum seluruh siswa dapat hadir.
“Sebagian murid masih belum pulih secara fisik dan psikologis. Ada yang rumahnya rusak berat, bahkan hanyut terbawa banjir bandang. Ada juga yang perlengkapan sekolahnya tidak lagi utuh,” ujarnya.
Pantauan di sekolah menunjukkan kondisi belajar yang belum sepenuhnya normal, ditandai dengan sebagian siswa belum mengenakan seragam sekolah.
Situasi tersebut mencerminkan kondisi keluarga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar pascabencana.
Kemendikdasmen mencatat sebanyak 2.756 satuan pendidikan terdampak banjir dan longsor di Aceh, dengan 2.226 sekolah telah kembali beroperasi meski masih dalam tahap pemulihan.
Pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat berbagai dukungan, mulai dari sarana pendidikan darurat hingga pemulihan psikososial peserta didik.
Aceh Tamiang — Pemerintah mempercepat pemulihan sekolah-sekolah terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang agar kegiatan belajar mengajar dapat segera kembali berjalan secara bertahap dan berkelanjutan.
Sektor pendidikan ditempatkan sebagai prioritas utama karena dinilai berperan penting dalam memulihkan rutinitas masyarakat sekaligus menjaga stabilitas psikososial anak-anak pascabencana.
Kementerian Pekerjaan Umum bekerja sama dengan BUMN Karya dan TNI melakukan pembersihan lumpur serta material sisa banjir di lingkungan sekolah yang terdampak parah.
Kolaborasi lintas sektor ini difokuskan pada percepatan pembersihan ruang kelas dan fasilitas penunjang agar sekolah dapat kembali difungsikan untuk kegiatan pembelajaran.
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk terlibat langsung dalam pembersihan sejumlah sekolah, seperti SMP Negeri 2 Karang Baru, SD Negeri 2 Karang Bundar, dan SD Negeri 1 Karang Baru.
Untuk mempercepat proses, berbagai alat berat dikerahkan, sementara peralatan manual digunakan untuk menjangkau ruang kelas yang sulit diakses.
Pemerintah berharap dengan sekolah kembali beroperasi, proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih normal meski masih dalam keterbatasan.
Wakil Kepala SMP Negeri 2 Karang Baru, Amira, menyampaikan bahwa aktivitas pembelajaran sudah kembali berjalan meski belum seluruh siswa dapat hadir.
“Sebagian murid masih belum pulih secara fisik dan psikologis. Ada yang rumahnya rusak berat, bahkan hanyut terbawa banjir bandang. Ada juga yang perlengkapan sekolahnya tidak lagi utuh,” ujarnya.
Pantauan di sekolah menunjukkan kondisi belajar yang belum sepenuhnya normal, ditandai dengan sebagian siswa belum mengenakan seragam sekolah.
Situasi tersebut mencerminkan kondisi keluarga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar pascabencana.
Kemendikdasmen mencatat sebanyak 2.756 satuan pendidikan terdampak banjir dan longsor di Aceh, dengan 2.226 sekolah telah kembali beroperasi meski masih dalam tahap pemulihan.
Pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat berbagai dukungan, mulai dari sarana pendidikan darurat hingga pemulihan psikososial peserta didik.
