Ketiga, persinggahan. Hal ini yang paling banyak masih sering terlupakan bahkan oleh kita umat Islam. Suatu tempat yang disinggahi seperti pos, tempat santai atau rumah, bahkan sekedar lewat, seperti hutan, tempat sepi dan angker sebisa mungkin senantiasa mengingat Allah dan berlindung kepadaNya.
Berbagai makhluk lain seperti hewan, bahkan jin atau makhluk lain perlu untuk diwaspadai. Maka Rasul memerintahkan untuk berlindung dengan membaca do’a penuh kebaikan, yaitu “A’uudzubikalimatillaahit-taammaati min syarri maa kholaq!” (“Aku berlindung dengan kalimat Allah dari segala kejahatan makhluk yang tercipta”).
Demikian “ta’awwudz” yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengharap kebaikan dari Allah. Sebagai bagian dari usaha, perlindungan tersebut dilumrahkan bahkan pada setiap kesempatan.
Pembiasaan baik ini untuk dipahami secara sungguh sebab mengamalkannya secara rutin, sungguh-sungguh akan dicatat sebagai kebiasaan meski lupa, bahkan pada saat itu dijanjikan akan diganti dengan kebaikan lain. Sebab kebaikan hanya ada pada Allah, maka sudah semestinya kejahatan hanya dapat dihindarkan olehNya dengan berlindung sejatinya hanya kepadaNya, “Shadaqaallahu Wallahu a’lam!”
*Nazwar, S. Fil. I., M. Phil., penulis adalah Pengasuh Komering Ilir Ngaji Sumatera
