Tumpahan CPO di Gili Iyang Meluas hingga Sepudi, Ekosistem Laut dan Pariwisata Terancam

Sebaran tumpahan minyak di laut Gili Iyang Kabupaten Sumenep. (Foto: Istimewa)

SUMENEP — Tumpahan minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) di perairan utara Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, masih berlangsung hingga hari keempat sejak kapal tongkang pengangkut CPO kandas di atas terumbu karang. Minyak terus mengalir dari badan kapal dan menyebar mengikuti arus laut, memperluas wilayah pencemaran.

Kecelakaan kapal terjadi pada Kamis, 22 Januari 2026. Hingga Jumat, 23 Januari 2026, tongkang masih terjebak di karang dan kebocoran belum tertangani. Lapisan minyak terlihat mengapung di permukaan laut dan menumpuk di sejumlah titik pesisir Gili Iyang.

Dalam peristiwa itu, warga Gili Iyang mengevakuasi lima anak buah kapal (ABK) dari tongkang menggunakan perahu nelayan. Evakuasi dilakukan untuk mencegah risiko keselamatan akibat kondisi kapal yang tidak stabil dan cuaca laut yang berubah-ubah.

Sebaran CPO tidak hanya mencemari perairan Gili Iyang. Sejumlah warga melaporkan tumpahan minyak juga telah mencapai perairan Pulau Sepudi. Informasi tersebut ramai beredar di media sosial dalam bentuk foto dan video yang memperlihatkan lapisan minyak mengapung di permukaan laut dan menempel di sekitar pesisir.

Nelayan setempat melaporkan temuan ikan dan biota laut dalam kondisi mati atau sekarat di sekitar lokasi tumpahan. Air laut yang biasanya jernih berubah keruh, licin, dan berbau menyengat akibat lapisan CPO.

Bacaan Lainnya

Aktivis lingkungan sekaligus dosen biologi Universitas Annuqayah Guluk-Guluk, Moh Argus, mengatakan dampak tumpahan CPO tidak bisa dianggap ringan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *