Urgensi Pembentukan PKC PMII DIY?

Ilustrasi

Sampai di sini, tiga pertanyaan awal kembali menghantui, lalu menghilang begitu saja. Karena itu, izinkan saya menegaskannya sekali lagi.

Pertama, apa basis argumentasinya?

Apakah ada kajian serius yang menunjukkan bahwa lemahnya PMII DIY hari ini disebabkan oleh ketiadaan PKC? Atau jangan-jangan, wacana ini lahir dari kejenuhan elite organisasi yang kehabisan gagasan substantif?

Kedua, apakah dinamika internal PMII DIY harus dijawab dengan PKC?

Jika problemnya adalah kader yang tidak betah, komisariat yang mati suri, serta diskursus yang makin jauh dari realitas mahasiswa, lalu apa hubungan langsungnya dengan PKC? Apakah PKC bisa otomatis membuat PMII kembali relevan bagi mahasiswa kos-kosan yang sibuk kerja sambilan dan hidup di bawah tekanan ekonomi?

Bacaan Lainnya

Ketiga, apa urgensinya?

Urgensi untuk siapa? Untuk kader aktif? Atau justru untuk konsolidasi alumni? Jangan-jangan PKC lebih urgen bagi kepentingan simbolik seperti jabatan baru, ruang kuasa baru, dan forum rapat baru  yang ujung-ujungnya dihadiri orang-orang itu juga.

Di titik ini, Parkinson’s Law dari Cyril Northcote Parkinson terasa relevan. Salah satu hukum klasiknya menyebut bahwa organisasi cenderung berkembang bukan karena kebutuhan kerja, melainkan karena kebutuhan internal para pejabatnya. Ketika energi organisasi habis untuk mengurus struktur, rapat, dan posisi, jangan heran jika substansi perlahan ditinggalkan.

Jika demikian, maka PKC bukanlah solusi. Ia justru gejala dari masalah yang lebih dalam yang saya sebut sebagai krisis imajinasi gerakan.

Yang dibutuhkan PMII hari ini bukan tambahan koordinasi struktural, melainkan keberanian menjawab pertanyaan paling sederhana sekaligus paling menyakitkan yakni mengapa mahasiswa hari ini harus bergabung dengan PMII?

Selama pertanyaan itu belum dijawab secara jujur, pembentukan PKC hanya akan menjadi kosmetik organisasi seperti tampak rapi di luar, tetapi keropos di dalam.

Akhirul kalam, sebelum sibuk menggambar struktur baru di atas kertas, mungkin ada baiknya kita kembali menyelesaikan pertanyaan lama yang belum terjawab. Sebab organisasi yang sehat bukan yang strukturnya paling lengkap, melainkan yang paling mampu menjawab zamannya. Dan sejauh ini, hemat saya, wacana pembentukan PKC PMII DIY belum menyentuh persoalan mendasar itu.

*Kirwan, penulis adalah Kader PMII DIY

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *