JAKARTA – Peran pemengaruh (influencer) dalam industri aset digital semakin strategis, terutama dalam membentuk persepsi publik dan meningkatkan literasi masyarakat terhadap kripto di tengah derasnya arus informasi digital.
Isu utama yang mencuat adalah dilema antara kontribusi besar influencer dalam edukasi kripto dan risiko misinformasi yang muncul akibat minimnya pengawasan serta keberadaan akun anonim.
CEO Indodax, William Sutanto, menilai bahwa kehadiran influencer tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri kripto di Indonesia, meski tetap membutuhkan batasan yang jelas.
“Platform seperti Instagram, YouTube, Twitter, dan lainnya banyak dimanfaatkan oleh para influenser untuk menyampaikan berita. Namun di luar itu, ini juga menjadi ladang bisnis bagi para influenser, karena di dalamnya ada aktivitas pemasaran, distribusi informasi, serta edukasi,” ujar dia di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Dalam forum Bulan Literasi Kripto 2026, William menyebut kontribusi influencer selama ini sangat signifikan dalam membantu masyarakat memahami isu kripto yang cenderung kompleks dan teknis.
“Ekosistem kripto di Indonesia pun tidak akan berkembang seperti saat ini tanpa kontribusi influenser dan konten kreator yang menggaungkan pasar kripto,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya potensi penyalahgunaan ruang digital oleh akun anonim yang tidak bertanggung jawab, yang dapat menyebarkan informasi keliru hingga melakukan kampanye negatif.
“Seiring berkembangnya industri, mulai muncul akun-akun anonim yang suaranya tidak dapat dipertanggungjawabkan, namun memiliki pengaruh besar,” katanya.
Menurutnya, fenomena tersebut bahkan telah berdampak pada sejumlah pihak, termasuk perusahaan, melalui praktik pencemaran nama baik.
“Oleh karena itu, diperlukan pengaturan dan pengawasan yang lebih ketat agar ekosistem kripto tetap sehat dan berintegritas,” ujarnya.
Upaya penguatan literasi ini juga didukung oleh kolaborasi antara Asosiasi Blockchain Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan melalui program Bulan Literasi Kripto 2026 yang berlangsung sepanjang April hingga Mei.
Program tersebut mengusung tema transformasi ekosistem digital yang inklusif dan melibatkan berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, akademisi, hingga aparat penegak hukum. Dalam pelaksanaannya, influencer dan kreator konten turut dilibatkan sebagai bagian dari strategi memperluas edukasi publik sekaligus menekan potensi misinformasi.
William menegaskan bahwa edukasi tetap harus berjalan, namun dengan koridor yang jelas agar tidak merugikan masyarakat.
“Di sisi lain, langkah-langkah edukasi yang dilakukan oleh influenser dan konten kreator tetap perlu berjalan, selama memiliki batasan yang jelas dan tidak merugikan orang lain,” katanya.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Indodax juga terus mengembangkan program edukasi melalui platform internalnya guna meningkatkan pemahaman dan kepercayaan masyarakat terhadap industri kripto nasional.







