BANGKALAN – Isu ketahanan pangan menjadi sorotan utama dalam kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama yang digelar oleh Yayasan Pondok Pesantren Al Ibrohimy di Galis, Bangkalan, Selasa (4/3/2025). Acara tersebut menghadirkan Muhamad Mardiono selaku Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan, serta dihadiri para santri, dewan asatidz, tokoh masyarakat, dan warga sekitar.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang menghadirkan suasana khidmat. Seluruh peserta kemudian bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Subbanul Wathon sebagai simbol penguatan semangat kebangsaan di lingkungan pesantren.
Mewakili pihak yayasan, Ibrohim Muchlis dalam sambutannya menegaskan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab moral dan historis dalam menjaga keseimbangan antara nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Ia menilai bahwa isu ketahanan pangan tidak semata persoalan ekonomi, melainkan bagian dari amanah konstitusi untuk menjamin kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, pesantren perlu mengambil peran strategis dalam membangun kemandirian umat melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, serta pembentukan karakter santri yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Sementara itu, dalam orasi kebangsaannya, Muhamad Mardiono memaparkan kondisi geopolitik global yang berdampak pada stabilitas pangan dunia. Ia menjelaskan bahwa konflik antarnegara, perubahan iklim, serta gangguan rantai pasok internasional menuntut Indonesia untuk memperkuat kemandirian pangan nasional.
Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu pilar penting bagi kedaulatan negara, karena berkaitan langsung dengan stabilitas politik dan keamanan nasional. Oleh karena itu, menurutnya, diperlukan sinergi kuat antara pemerintah, ulama, dan masyarakat untuk membangun sistem pangan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Dalam pandangannya, pembangunan sektor pangan harus bertumpu pada potensi lokal, inovasi teknologi, serta penguatan sumber daya manusia. Pesantren dinilai memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi yang religius sekaligus produktif dalam mendukung pembangunan nasional.
Sebagai bagian dari kepedulian sosial di bulan Ramadhan, kegiatan tersebut juga diisi dengan pembagian sembako kepada anak yatim dan kaum duafa di wilayah Galis dan sekitarnya. Aksi sosial ini menjadi simbol bahwa ketahanan pangan harus menyentuh dimensi kemanusiaan, terutama bagi kelompok masyarakat rentan.
Acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama dalam suasana kebersamaan. Kegiatan ini tidak hanya mempererat hubungan antara pemerintah dan komunitas pesantren, tetapi juga memperkuat komitmen bersama untuk menjadikan ketahanan pangan sebagai fondasi kedaulatan dan kesejahteraan bangsa.







