Satu Kali yang Baru Di Kampung Emak

Ilustrasi

Suatu kali yang baru pagi hari di kampung, aku lihat gadis kampung sendiri, hari dimana aku bermalam di rumah saudara, rumahnya tidak jauh dari berlalu lalang motor, taksian, dan nelayan. Juga ialah suami bekas mantan nelayan yang sekarang tiada kuat menghabiskan malam-malamnya di tengah laut yang mencengkam.

Ngantuk belum juga hilang kusandarkan tubuh di  ambin bambu depan teras rumah, juga gadis-gadis berlarian (joging) sepagi itu di pinggir jalan, ada yang beriringan sebagian lagi mengikuti depannya, jalan yang baru di perbaiki berapa minggu lalu yang baru aku ketahui dari emak sekawanan menyusul memanggil-manggil yang semakin jauh tertinggal seolah meraka demam segala kebaruan yang belum meraka rasakan sebelumnya.

Sementara emak meneruskan ngantuku belum juga mau hilang dulu nak, diwaktu aku masih gadis tidak ada waktu berlarian seperti gadis-gadis kau lihat barusan, waktu kami dibahiskan membantu orang tua merawat anak saudara  uhhh… banyak kami harus bisa semua kalu tidak siapa lagi bantu, itulah nak sebab emak tidak bisa baca nulis ngaji taunya fatiha, alif, lam, sama mim itupun belum tamat. Sekolah dulu nak belum ada disini kalau adapun itu sangat jauh dari kampung ini ada cumak langgar itupun emak jarang pergi ngaji kelanggar.

Makanya emak sekolahkan kau biar tidak seperti emakmu ini nak, Qur’an mu juga sekarang sudah tamat  uhhh… sukurlah nak, Sementara emak masih tiada kepalang meneruskan tutur demi tuturnya dikala masih gadis, seakan banyak kepedihan yang sudah direnggut dari tiap-tiap yang kelur dari mulut yang kini sudah tidak mudah lagi. Uhhh… nak zaman sekarang, orang-orang tua muda sudah tidak punyak aturan beda jauh waktu orang tua emak masih ada.

Nak sudahkah dengar tutur orang tua emak? belum lagi aku menjawab emak meneruskan sedang aku tatap wajah serasa kedua bola mata ditutupi alisnya yang kendur berkerut, mata yang dulu menyala pagi, siang, dan malam sekarang tidak, melihatpun kini tidak begitu jelas apa yang sebenar benarnya ia lihat. Nyaris aku menangis pagi itu namun ngantuk belum lagi menghendaki tangisan demi tangisan. Sedang emak berkaca air mata tiap-tiap dilontarkan dari lubuk hati yang dalam, sesekali ia membenarkan kancing baju, dicabutinya benang yang lepas dari jahitan yang ia beli sendiri tiga tahun lalu waktu hendak berkunjung pada saudara lama. Kapur sirih, tiada habisnya dikunyah dimamah hingga bibir kemerah merahan seraya diselangi pinang.

Bacaan Lainnya

Begini nak…anakku, sudah kebiasan kita sebagai orang tani bahkan diumur emak yang sudah tua ini rasa-rasanya tidak sampai hati bila berdiam saja dirumah meski keadaan sakit seperti sekarang, sedang yang lain dia sudah menanam jagung dan kacang apalah entar bila musim panen kau hanya tinggal celingak-celinguk, sementara meraka sudah menikmati dengan berbagai macam olahan kesukaan. Yaa… setidak-tidaknya emak tananamkan jagung disamping rumah emang tak luas tapi cukup untuk kau seorang, orang tua emak juga petani ulung tak banyak aku dengar berkeluh kesah pada hidupnya malah dia sendiri seperti tak punyak rasa lelah panyah sebagai petani tak tentu pula musim panen menghasilkan, kala umurnya masih ada sepagi seperti ini nak… selesai shalat subuh kami mempersiapkan keperluan beranjak ke kebun, sedang emak dirumah menemani anak saudarah yang dititipkan pada emmak sebagai saudara termudah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *