Satu Kali yang Baru Di Kampung Emak

Ilustrasi

Kadang kala bila siang hari membawakan nasi lengkap dengan lauk-pauk tak lupa membawa kambing hadiah pernikan dari mertua emak yang sekarang sudah beranak berbiak tak luput dari itu nak… emak mesti mengantikan bilamana orang tua ada kesibukan lain, memang bukan suatu kebetulan nak kebun sekarang dekat hutan sering kali kami berpindah tempat dari satu tempat kelain tempat, cukup sering kebun ditanami jati dari orang tidak penah dikenal sebelumnya di kampung, padahal menanam di sini sudah berpuluh tahun lamanya, katanya tanah ini tanah hutan tanah lindung begitulah seterusnya nak…sampai kami tak bisa lagi menanam dan mati akan kelaparan.

Uhhh…. Kehidupan orang tani nak… kau sendiri sedikit banyak pernah merasai itu, biar emakmu saja merasakan segala kepahitan tidak ada yang lebih pahit juga beruntung dari kehidupan petani nak. Sedang sekarang nak…cukup banyak orang pergi kekota mencari kerja, kota yang belum mereka kenal sebelumnya meraka hanya kenal tempat kelahiranya sendiri selebihnya tidak. Meraka pulang bila-bila ada kejadian duka lara orang tuanya atau saudara, juga membikin khawatir  bila lamanya tidak ada kabar.

Sementara matahari serasa tiada sanggup menyinari paginya dan pepohonan memagari sepanjang jalan tanjak bebatuan jurang itu, burung-burung bekisar berkicau di kejauhan antara terdengar sayup menyayup serasa baru keluar dari dalam sarang menghangatkan tubuh yang beberapa waktu lalu hujan tiada hentinya menimpa kampung emak, sejurus kemudian tidak aku sadari tetangga disibukan membersikan halaman  rumah, rumah itu memberbaris dengan teratur seolah bukan suatu kebetulan dibuat yang kini ditempati entah keberapa turun temurun.

Tiada aku lihat karangan bunga-bunga ditanam hanya sayur, ubi, buah, dan memang tumbuh subur tiada banding bila waktu berbuah siapa saja meminta dikasinya apalagi tetangga ia sendiri, katanya menanam bunga-bunga hanyalah membawah sampah kerumah tiada guna yang kudengar bulan lalu. Terasa aroma bauh menyengat hidung yang kemudian emak tergesa masuk dalam rumah mengarah tungku dia sendiri kelupaan mengkukus ikan yang sudah lamanya. Sementara gadis-gadis kampung makin jauh dari pandangan mata dan taksian-taksian tiada hentinya memandangi pagi buta itu.

Abdurrahman, penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijga Yogyakarta

Bacaan Lainnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *