Bukan Cuma Transfer Ilmu, Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq: Pendidikan Harus Memanusiakan Manusia

Wamendikdasmen saat Sambutan dalam Upacara Pengukuhan 7 Guru Besar di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS. (Foto: Humas UMS)

JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa esensi pendidikan nasional harus kembali pada khitahnya, yakni sebagai proses memanusiakan manusia. Hal tersebut disampaikan Fajar dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 sebagai bahan refleksi untuk memperkuat arah transformasi pendidikan di Indonesia.

Wamendikdasmen menekankan bahwa di tengah perkembangan zaman, sekolah tidak boleh hanya terjebak pada rutinitas pemberian materi pelajaran. Fokus utama saat ini adalah bagaimana membangun karakter dan menyiapkan generasi yang tangguh.

“Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan, tetapi juga proses memanusiakan manusia, membangun karakter, serta menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Minggu (3/5/2026).

Peringatan Hardiknas tahun ini mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Menurut Fajar, tema ini menjadi pengingat bahwa pendidikan berkualitas bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan hasil kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar layanan pendidikan bisa dinikmati secara merata oleh semua anak bangsa tanpa terkecuali.

Menariknya, Hardiknas 2026 bertepatan dengan momen besar lainnya, yaitu Hari Bumi ke-56 dan Hari Otonomi Daerah ke-30. Fajar menilai sinergi ketiga momen ini adalah simbol penting bagi masa depan. Pendidikan harus mampu menghasilkan SDM yang peduli pada keberlanjutan lingkungan dan didukung oleh tata kelola daerah yang kuat.

Bacaan Lainnya

Sejalan dengan visi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Fajar menjelaskan bahwa tujuan akhir pendidikan adalah membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memuliakan martabatnya sebagai manusia. Harapannya, peserta didik Indonesia tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, terampil, dan siap bersaing di kancah global.

Dalam kerangka visi AstaCita Presiden, transformasi pendidikan kini digeser dari pendekatan lama menuju metode pembelajaran yang lebih mendalam (deep learning). Siswa didorong untuk tidak sekadar menghafal, tetapi mampu berpikir kritis dan menciptakan inovasi.

Namun, Fajar menyadari bahwa kunci dari semua perubahan besar ini ada di tangan para pendidik. Pemerintah berkomitmen untuk terus memprioritaskan peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru di seluruh Indonesia.

“Guru adalah pusat perubahan. Investasi pada guru adalah investasi jangka panjang bagi masa depan pendidikan kita,” tegas Fajar menutup pernyataannya.

Melalui momentum Hardiknas ini, pemerintah mengajak seluruh pihak untuk kembali melihat pendidikan sebagai fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing global.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *