JAKARTA – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi alarm bagi dunia pendidikan Indonesia. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati, menekankan perlunya langkah nyata untuk memperbaiki kualitas pendidikan yang saat ini dinilai masih belum merata. Berdasarkan data Asesmen Nasional 2025, ditemukan fakta mengkhawatirkan bahwa sekitar 50 persen siswa di Indonesia belum berhasil mencapai kompetensi minimum dalam literasi dan numerasi.
Kurniasih menyatakan bahwa capaian pendidikan saat ini masih menyisakan banyak pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemerintah. Selain rendahnya tingkat literasi, angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) nasional tahun 2025 baru menyentuh 8,85 tahun, angka yang masih jauh dari target wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan pemerintah.
“Ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan dari tantangan nyata yang harus kita jawab bersama. Akses pendidikan harus ditingkatkan, tetapi kualitas pembelajaran juga harus menjadi fokus utama,” ujar Kurniasih dalam keterangan resminya, Sabtu (2/5/2026).
Menurut politisi Fraksi PKS ini, persoalan pendidikan tidak bisa diselesaikan secara parsial. Ia mendesak adanya perbaikan menyeluruh mulai dari peningkatan kapasitas guru, kurikulum yang lebih adaptif, hingga pemerataan fasilitas sarana dan prasarana di seluruh pelosok negeri.
Kurniasih juga menyoroti penggunaan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN. Menurutnya, besarnya dana tersebut harus berbanding lurus dengan dampak yang dirasakan masyarakat di lapangan. Ia berkomitmen bahwa Komisi X DPR RI akan memperketat fungsi pengawasan agar kebijakan pendidikan tidak hanya indah di atas kertas, namun efektif saat diimplementasikan.
“Anggaran pendidikan yang besar harus benar-benar berdampak. Kita perlu memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan mampu meningkatkan akses, kualitas, dan pemerataan pendidikan,” tegas wakil rakyat dari Dapil Jakarta II tersebut.
Lebih lanjut, ia meminta pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan krusial seperti sistem zonasi, perlindungan anak di sekolah, hingga isu kesejahteraan guru honorer yang hingga kini masih menjadi polemik. Di momentum Hardiknas ini, ia mengajak semua pihak untuk lebih jujur dalam melihat raport merah pendidikan Indonesia agar bisa melakukan perbaikan yang berkelanjutan.
“Hardiknas harus menjadi ruang refleksi sekaligus titik tolak untuk perbaikan yang lebih nyata. Pendidikan adalah fondasi masa depan bangsa, dan kita tidak boleh berkompromi terhadap kualitasnya,” tutup Kurniasih.







