Masih ingatkah Anda dengan film “Children of Heaven”, film drama keluarga Iran yang ditayangkan pada tahun 1997 dan dulu disiarkan oleh salah satu stasiun televisi Indonesia terutama saat libur Ramadan? Bagi saya, film ini adalah salah satu film yang berkesan dan mengingatkan saya pada kondisi Iran saat ini.
Film ini bercerita tentang dua kakak beradik dari keluarga miskin di Teheran bernama Ali dan Zahra yang terjebak masalah karena sepasang sepatu yang hilang. Ali tanpa sengaja menghilangkan satu‑satunya sepatu milik Zahra ketika mengambilnya dari tukang sol.
Karena tahu orang tuanya sangat miskin, ia dan Zahra sepakat merahasiakan hal itu dan bergantian memakai satu pasang sepatu yang sama untuk berangkat sekolah. Zahra memakai pagi, lalu berlari pulang untuk menyerahkan sepatu ke Ali yang sekolah siang, sehingga Ali sering terlambat dan dimarahi guru.
Suatu hari Ali mengetahui ada lomba lari anak dengan hadiah sepasang sepatu untuk juara ketiga, lalu ia pun ikut dan berjuang keras agar bisa menang demi membelikan sepatu baru untuk Zahra. Film ini sering dipuji sebagai film sederhana tentang kasih sayang, pengorbanan kakak terhadap adik, serta perjuangan anak‑anak di tengah kemiskinan.
Saya ingin mengajak pembaca untuk memaknai film ini dari sudut pandang hubungan internasional dan mengaitkannya dengan kondisi Iran saat ini yang tengah dihadapkan pada konflik melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Film ini dapat menjadi simbol perlawanan dimana ia merayakan kemanusiaan rakyat Iran di tengah citra negara yang kerap direduksi sebagai “musuh” atau “ancaman” bagi AS dan Israel. Di era ketika konflik antara Iran dengan AS dan Israel kembali memanas dan menelan banyak korban sipil, pembacaan ulang terhadap film ini menjadi relevan sebagai jembatan empati dan kritik atas tatanan global yang timpang.
Cerita dan simbol yang berlapis
Cerita “Children of Heaven” dimulai dari peristiwa saat Ali kehilangan sepatu milik adiknya (Zahra), satu-satunya sepatu yang ia punya untuk bersekolah. Dari situ, keduanya terpaksa berbagi satu pasang sepatu dan berlari bergantian menuju sekolah agar orang tua mereka yang hidup dalam kemiskinan ekstrem tidak semakin terbebani.
Objek sepatu dalam konteks ini menjadi simbol berlapis, di mana ia mewakili martabat, akses pendidikan, dan hak paling dasar seorang anak untuk hadir secara layak di ruang publik. Dalam konteks perjuangan Iran melawan AS dan Israel, objek sepatu ini dapat diartikan sebagai martabat, identitas, keamanan, kebebasan, atau kedaulatan (otonomi) Iran sebagai negara. Ketika objek tersebut hilang, ini bukan sekadar cerita tentang barang yang lenyap, tetapi juga rasa harga diri dan tempat mereka dalam masyarakat atau pergaulan internasional yang semakin berstrata.
Sutradara film “Children of Heaven” (1997) adalah Majid Majidi. Sejumlah kajian akademik menyebut Majid Majidi sebagai sutradara yang konsisten menggabungkan realisme sosial dengan spiritualitas Islam untuk merespons berbagai isu seperti perang, kemiskinan, nasionalisme, dan marginalisasi.
Strategi ini menghadirkan apa yang disebut sebagai humanistic concern yaitu simpati pada kaum lemah, penghormatan pada nilai-nilai tradisional, dan penekanan pada harapan serta ketekunan di tengah krisis. Dalam konteks hubungan internasional, pilihan ini bisa dibaca sebagai upaya untuk membentuk kembali narasi tentang Iran, bahwa Iran bukan sebagai ancaman nuklir, tetapi sebagai negara yang berjuang mempertahankan martabatnya.
Program nuklir Iran dalam konteks ini bisa dipahami bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai upaya mempertahankan keamanan, kedaulatan, dan martabat di tengah dominasi dan tekanan berkepanjangan dari AS dan sekutunya. Berbagai perspektif dalam kajian hubungan internasional seperti realisme, konstruktivisme, dan postkolonialisme dapat membantu untuk menjelaskan mengapa Iran memaknai kemampuan nuklir sebagai simbol hak dan harga diri, bukan semata sebagai alat agresi.
Dari konsep itulah, negara hidup di dalam sistem internasional yang anarkis dan harus mengandalkan diri sendiri (self-help) untuk bertahan, terutama ketika berhadapan dengan kekuatan besar seperti AS yang memiliki kapasitas militer jauh lebih unggul. Iran berulang kali menghadapi ancaman serangan militer, sanksi berat, dan upaya perubahan rezim, sehingga kemampuan nuklir (atau status ambang nuklir) dipandang sebagai sarana deterrence untuk mencegah intervensi eksternal dan menjamin kelangsungan rezim.
Dalam logika ini, program nuklir Iran dapat dilihat sebagai respon terhadap lingkungan keamanan yang tidak bersahabat, bukan niat awal untuk menyerang pihak lain. Banyak analis menyebut bahwa elit Iran melihat kemampuan nuklir sebagai cara untuk melindungi kedaulatan dan mencegah agresi, bukan sebagai alat ekspansi.
Dari sudut pandang Iran, ancaman utama justru datang dari jaringan pangkalan militer AS di sekitar kawasan, kehadiran kapal perang di Teluk, dan kekuatan nuklir negara lain yang tidak tersentuh rezim sanksi serupa.
Dari perspektif konstruktivisme yang menekankan bahwa kebijakan luar negeri tidak hanya ditentukan oleh ancaman material, tetapi juga oleh identitas, ide, dan pencarian pengakuan. Sejumlah studi menunjukkan bahwa elit Iran membingkai program nuklir sebagai isu “identitas nasional, kemajuan teknologi, dan martabat bangsa”, bukan sekadar proyek militer.
Penelitian tentang wacana elit Iran menemukan bahwa sejak awal 2000‑an, istilah seperti “kehormatan”, “hak nasional”, dan “kemajuan teknologi” sering digunakan untuk membenarkan program nuklir sebagai simbol bahwa Iran mampu berdiri sejajar dengan kekuatan besar, bukan lagi negara Dunia Ketiga yang tertinggal. Bahkan program nuklir kerap dipotret sebagai proyek modernisasi dan kebangkitan nasional yang menyatukan berbagai faksi politik di dalam negeri, karena dipandang menyentuh batas identitas dan martabat Iran.





