BEKASI – Suasana haru menyelimuti lantai 2 Stasiun Bekasi Timur pada Sabtu (2/5)/2026, di mana hamparan bunga dukacita memenuhi area akses masuk stasiun untuk mengenang 16 korban jiwa dalam tragedi tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line. Di saat warga memberikan penghormatan terakhir, pihak kepolisian resmi meningkatkan status kasus kecelakaan maut ini dari tahap penyelidikan ke penyidikan guna mengungkap potensi kelalaian atau gangguan teknis.
Berdasarkan pantauan di lokasi, karangan bunga dan buket warna-warni diletakkan warga di sepanjang dinding kaca dekat tangga masuk sebelum mesin tap, baik di sisi utara maupun selatan. Pesan-pesan menyentuh hati dan foto ke-16 korban perempuan yang dijuluki “Srikandi Bangsa” turut tertempel di sela-sela bunga tersebut. Warga dan penumpang KRL tampak bergantian berhenti sejenak untuk mendoakan para korban yang meninggal dunia dalam insiden tragis pada Senin (27/4/2026) malam lalu.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menegaskan bahwa kepolisian telah menemukan bukti permulaan yang cukup untuk menaikkan status perkara. Hingga kini, penyidik telah memeriksa 24 saksi dan menambah pemeriksaan terhadap 7 orang krusial yang bertanggung jawab dalam operasional perjalanan kereta.
“Perkara ini sudah naik ke tahap penyidikan. Kami telah melakukan olah TKP, pemeriksaan saksi, serta pengumpulan barang bukti termasuk CCTV. Pemeriksaan masih berlangsung di Manggarai terhadap petugas Pusdalops, PPKA, masinis, hingga pengendali perjalanan,” ujar Budi Hermanto saat memberikan keterangan, dilansir Detik.com, Sabtu (2/5/2026).
Pihak kepolisian juga melibatkan Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri untuk membedah penyebab pasti tabrakan. Fokus utama investigasi meliputi kemungkinan adanya gangguan sistem kelistrikan atau malfungsi persinyalan di lokasi kejadian.
Menanggapi langkah hukum tersebut, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyatakan komitmennya untuk kooperatif. Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menekankan pentingnya transparansi demi perbaikan sistem keamanan di masa depan.
“Investigasi dan juga semua proses harus didukung penuh untuk keselamatan perkeretaapian ke depan,” tegas Anne Purba.
Insiden maut ini bermula ketika sebuah taksi mengalami korsleting dan terhenti di perlintasan sebidang liar Jalan Ampera, yang kemudian tertemper KRL arah Jakarta. Kecelakaan awal tersebut menyebabkan kendala operasional yang berujung pada tabrakan fatal KA Argo Bromo Anggrek terhadap KRL yang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Selain 16 korban jiwa, insiden ini juga menyebabkan 90 orang lainnya luka-luka. Sebagai langkah preventif, KAI Daop 1 Jakarta kini telah memasang palang pintu besi manual dan menyiagakan petugas gabungan di titik perlintasan tersebut.







