Kebijakan Fiskal, IHSG, dan Tekanan Nilai Tukar Dolar di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Rendra Prestadianto

Selain itu, ketergantungan pada arus modal asing membuat IHSG dan rupiah sangat rentan terhadap sentimen global, terutama kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Hal ini memperkuat volatilitas ketika kebijakan fiskal domestik tidak cukup kuat menjadi penyeimbang.

Pemerintah perlu memperkuat kredibilitas fiskal melalui tiga langkah utama. Pertama, memperjelas arah defisit anggaran dengan target yang realistis dan konsisten. Kedua, meningkatkan efisiensi belanja negara agar tidak menimbulkan persepsi pemborosan fiskal. Ketiga, memperluas basis pendapatan negara melalui reformasi pajak yang lebih adil dan efektif.

Di sisi lain, koordinasi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan harus diperkuat untuk menjaga stabilitas pasar. Intervensi yang tepat waktu di pasar valas dan obligasi juga penting untuk meredam volatilitas jangka pendek.

Diharapkan ke depan, kebijakan fiskal Indonesia tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan dan kepercayaan pasar jangka panjang. Dengan kebijakan yang konsisten, transparan, dan kredibel, IHSG dapat kembali mencerminkan fundamental perusahaan, bukan sekadar sentimen sesaat.

Maka dari itu, fenomena pelemahan IHSG dan tekanan pada rupiah hari ini menunjukkan bahwa pasar masih sangat dipengaruhi oleh persepsi terhadap kebijakan fiskal dan kondisi global.

Bacaan Lainnya

Stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh besarnya stimulus atau belanja negara, tetapi juga oleh kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pemerintah. Jika kepercayaan ini terjaga, maka volatilitas pasar dapat ditekan dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan lebih stabil dan berkelanjutan.

*Rendra Prestadianto, penulis adalah Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *