YOGYAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan belajar, tetapi juga memunculkan tantangan sosial dan etika baru. Menjawab fenomena tersebut, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Kalijaga menggelar Pelatihan Hertech: Perempuan Berdaya AI di Convention Hall kampus setempat, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi bersama ICT Watch, Federasi BPW Indonesia, dan Yayasan Kinarya Anak Bangsa. Pelatihan tersebut menjadi ruang edukasi bagi mahasiswa untuk memahami dampak perkembangan AI terhadap kehidupan sosial, pendidikan, hingga dunia kerja.
Menteri Pemberdayaan Perempuan DEMA UIN Sunan Kalijaga 2026, Hanun Luthfiyah, menilai generasi muda tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus memahami dampak sosial dan etika di balik perkembangan AI.
“Kita harus berdaya dengan AI, bukan diperdaya oleh AI,” tegas Hanun.
Ia menambahkan, teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas kemampuan manusia, bukan justru melemahkan daya nalar dan kemandirian berpikir.
Sementara itu, Direktur Program ICT Watch, Prasasti Dewi, menyoroti pentingnya kesetaraan akses teknologi bagi perempuan. Menurutnya, masih banyak perempuan yang belum percaya diri dalam memanfaatkan teknologi digital, padahal kemampuan tersebut kini menjadi kebutuhan utama.
Prasasti menyebut pelatihan Hertech diharapkan dapat mendorong perempuan lebih berani belajar, mengeksplorasi, serta memanfaatkan AI untuk pengembangan diri.
“Perempuan harus memiliki akses dan keberanian yang sama dalam memanfaatkan teknologi digital. Di era perkembangan AI saat ini, kemampuan memahami teknologi menjadi kebutuhan penting agar perempuan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu mengeksplorasi dan memanfaatkannya untuk pengembangan diri,” ujar Prasasti.
Pandangan lain disampaikan Vice President II Federasi BPW Indonesia, Fiyatri Widuri. Ia menilai perkembangan AI juga membawa ancaman baru yang perlu diantisipasi secara kritis.
“Kemajuan AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru. Kesadaran etis sangat penting karena perkembangan teknologi juga membuka ruang bagi penipuan digital, penyalahgunaan data, hingga manipulasi visual berbasis AI. Literasi digital harus diperkuat agar masyarakat lebih kritis dan tidak mudah terjebak,” tegas Fiyatri.
Menurutnya, kemajuan teknologi berpotensi memunculkan persoalan seperti penipuan digital, penyalahgunaan data pribadi, hingga manipulasi visual berbasis AI.
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan, mengatakan AI merupakan perkembangan yang tidak dapat dihindari. Meski demikian, mahasiswa tetap harus menjaga kemampuan berpikir kritis di tengah perubahan teknologi yang cepat.
“Perkembangan AI merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari dan telah mengubah cara manusia belajar serta memperoleh pengetahuan. Namun, mahasiswa harus tetap menjaga kemampuan berpikir kritis agar proses intelektual manusia tidak sepenuhnya diambil alih oleh teknologi,” imbuh Noorhaidi Hasan saat memberikan sambutan.
Ia menilai AI telah mengubah pola manusia dalam memperoleh pengetahuan, namun proses intelektual manusia tidak boleh sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Hal senada disampaikan Dewan Pakar Yayasan Kinarya Anak Bangsa, Laksono Trisnantoro. Dalam sambutannya, ia menegaskan AI dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat, tetapi juga berpotensi menyesatkan jika digunakan tanpa literasi dan verifikasi yang baik.
Laksono menekankan pentingnya kemampuan memilah informasi serta memahami cara berkomunikasi dengan AI sebagai kompetensi utama di era digital.
“AI dapat menjadi alat bantu yang sangat bermanfaat bagi manusia, tetapi juga berpotensi menyesatkan apabila digunakan tanpa verifikasi dan literasi yang baik. Kemampuan memilah informasi dan memahami cara berkomunikasi dengan AI menjadi kompetensi penting di tengah perubahan digital yang terus berkembang,” imbuh Laksono.
Presiden Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Diaz Habibie Rahman, turut menyoroti meningkatnya ketergantungan manusia terhadap AI dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai AI seharusnya digunakan untuk mendukung kreativitas dan memperkuat kemampuan berpikir manusia, bukan menjadi tempat menyerahkan seluruh proses berpikir secara penuh.
“Ketergantungan manusia terhadap AI semakin meningkat dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, AI seharusnya dimanfaatkan untuk mendukung kreativitas dan memperkuat cara berpikir manusia, bukan menjadi tempat menyerahkan seluruh proses berpikir secara penuh,” ujar Diaz.
Melalui pelatihan ini, DEMA UIN Sunan Kalijaga menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam perkembangan teknologi digital. AI dipandang bukan sekadar perkembangan teknologi, melainkan isu sosial yang membutuhkan kesiapan intelektual, etika, dan keberanian mengambil peran dalam perubahan zaman.







