Gelar Aksi di Tugu Makara, Mahasiswa UI Sebut “Reformasi Mati”

Mahasiswa UI mengadakan aksi simbolik terkait matinya reformasi di Tugu Makara, Kampus UI Depok, Jawa Barat, Rabu (20/5/2026). (Foto: Tempo.co)

JAKARTA Suasana duka menyelimuti Tugu Makara, Kampus Universitas Indonesia, pada Rabu petang (20/5/2026). Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) berkumpul dalam sebuah aksi simbolik untuk menyatakan sikap tegas bahwa agenda reformasi yang lahir sejak 1998 kini telah mencapai titik ajalnya.

Massa aksi mulai memadati area Putaran Tugu Makara UI sejak pukul 17.00 WIB. Mengenakan pakaian serba hitam sebagai lambang duka cita mendalam, para mahasiswa membawa berbagai atribut protes, mulai dari spanduk bertuliskan “Reformasi Mati, Prabowo Happy” hingga replika makam lengkap dengan nisan bertuliskan “RIP Reformasi”. Puncak aksi ditandai dengan penutupan ikon Tugu Makara menggunakan kain putih yang kemudian secara perlahan diganti menjadi warna hitam.

Koordinator aksi, Hafidz Haernanda, menegaskan bahwa gerakan ini adalah refleksi atas kemunduran demokrasi di Indonesia yang kian mengkhawatirkan. “Kami menyatakan bahwa reformasi yang selama ini diperjuangkan kini telah mati,” ujar Hafidz di sela-sela aksi, dukutip dari Tempo.co.

Menurut BEM UI, indikator utama dari berakhirnya era ini adalah kegagalan pemerintah dalam memenuhi mandat dan tuntutan rakyat pasca-jatuhnya rezim otoriter. Hafidz menilai bahwa janji-janji perubahan kini tinggal sejarah. “Kami melihat agenda reformasi telah usai,” imbuhnya singkat namun tajam.

Dalam orasinya, Hafidz menekankan bahwa situasi politik nasional saat ini mulai menunjukkan gejala yang sangat mirip dengan era Orde Baru. Ia memperingatkan masyarakat mengenai potensi lahirnya fase kepemimpinan yang lebih represif dan mengabaikan nilai-nilai kebebasan sipil. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang menjadi musuh utama reformasi justru dinilai semakin merajalela, bahkan dianggap melampaui keburukan masa lampau.

Bacaan Lainnya

Selain masalah KKN, BEM UI juga menyoroti kebijakan resentralisasi kekuasaan yang dianggap mengebiri semangat otonomi daerah. Hal ini diperparah dengan kebijakan simbolik pemerintah, seperti pemberian gelar pahlawan kepada Presiden kedua RI, Soeharto, yang dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap sejarah perjuangan mahasiswa.

Simbol kain putih pada Tugu Makara menjelaskan bagaimana reformasi yang awalnya dianggap bersih dan penuh harapan kini telah ternoda oleh kekuasaan. “Kain putih itu lama-lama tercemar dan rusak. Dalam prosesi nanti akan kami ganti menjadi hitam,” jelas Hafidz menggambarkan transformasi kemunduran tersebut.

Kendati menyatakan reformasi telah mati, Hafidz memberikan catatan penting bahwa aksi ini bukan bertujuan untuk melupakan sejarah besar tahun 1998. Sebaliknya, deklarasi ini diharapkan menjadi pemantik bagi gerakan mahasiswa dan rakyat untuk memulai babak baru perjuangan. “Kita pernah berjuang, dan ke depan kita bisa berjuang lagi,” tegasnya menutup pernyataan.

Aksi yang berlangsung kondusif ini diakhiri dengan prosesi “pemakaman” sebagai pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa demokrasi sedang berada dalam kondisi kritis dan membutuhkan penyelamatan segera.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *