JAKARTA – Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, memberikan instruksi tegas dalam persiapan peringatan satu tahun penyelenggaraan Sekolah Rakyat (SR). Melalui pertemuan virtual yang melibatkan kepala sekolah, tenaga pendidik, dan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) pada Senin (4/5/2026), Gus Ipul menekankan bahwa lembaga pendidikan ini harus menjadi suaka yang aman sekaligus mesin pengubah nasib bagi anak-anak rentan di Indonesia.
Dalam arahannya, Gus Ipul menggarisbawahi bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi akademik formal, melainkan ruang pemulihan bagi anak-anak yang memiliki latar belakang ekonomi sulit serta keterbatasan akses pendidikan. Ia mengingatkan para pendidik untuk mengedepankan empati dalam menjalankan tugasnya.
“Ini saling belajar dengan semangat untuk bisa melayani sesuai tugas masing-masing dengan penuh empati. Mereka yang kita didik ini adalah siswa-siswa istimewa, titipan Tuhan dan negara,” ujar Gus Ipul dalam keterangannya di Kantor Kementerian Sosial, Senin (4/5/2026).
Komitmen menciptakan lingkungan belajar yang sehat menjadi prioritas utama. Gus Ipul secara eksplisit melarang segala bentuk tindakan negatif di lingkungan sekolah, mulai dari diskriminasi hingga kekerasan fisik. Sanksi pemecatan menanti bagi siapa saja yang melanggar ketentuan tersebut demi menjaga integritas sekolah sebagai ruang aman.
“Tidak boleh ada bullying, tidak boleh ada kekerasan seksual maupun kekerasan fisik, dan tidak boleh ada intoleransi. Jika terbukti, bisa langsung diberhentikan,” tegas Mensos dengan nada bicara yang lugas.
Menyongsong usia satu tahun pada 14 Juli 2026 mendatang, Sekolah Rakyat mengusung visi “Dari Terlantar Menuju Bersinar”. Visi ini diimplementasikan melalui pendataan perkembangan siswa yang komprehensif, tidak hanya menyasar nilai rapor, tetapi juga memantau minat bakat di bidang seni, olahraga, hingga keterampilan teknis.
Data Kementerian Sosial menunjukkan saat ini terdapat 59 Sekolah Rakyat terakreditasi yang membina ratusan siswa. Sebanyak 453 siswa diproyeksikan lulus pada tahun 2026, yang terdiri dari 329 siswa tingkat SD, 113 siswa SMP, dan 11 siswa SMA. Gus Ipul meminta agar para lulusan ini tidak dibiarkan tanpa arah. Ia menginstruksikan pendampingan intensif agar setiap anak bisa mengejar cita-citanya, baik itu melanjutkan ke perguruan tinggi maupun berkarier di institusi seperti TNI.
“100 anak, 100 kesempatan. Setiap anak punya jalan dan peluang yang berbeda, dan tugas kita memastikan semua punya ruang untuk bersinar,” tambah Gus Ipul. Beliau juga menegaskan bahwa slogan “Dari terlantar menuju bersinar itu harus benar-benar kita wujudkan, bukan hanya jadi slogan.”
Dampak positif program ini mulai dirasakan di daerah. Kepala Sekolah SRMA 31 Pekanbaru melaporkan adanya transformasi mental pada siswa yang sebelumnya tertutup dan tidak percaya diri kini mulai aktif di kelas. Senada dengan itu, Kepala Sekolah SRMA 27 Takalar mengungkapkan bahwa fokus awal sekolah adalah membangun keberanian berkomunikasi sebelum menggenjot aspek akademik.
Melalui transparansi yang ditunjukkan lewat rencana agenda open house, Kemensos mengajak publik untuk ikut serta mengawal perjalanan anak-anak ini menuju masa depan yang lebih cerah.







