Boeing dan ITB Dorong Inovasi Kedirgantaraan Indonesia Menuju Pasar Global Melalui Program BUILD 2026

ITB bersama Boeing menghadirkan BUILD (Boeing University Innovation Leadership Development) sebagai langkah dalam mendorong lahirnya inovator muda Indonesia. (Dok. ITB Bandung, Jawa Barat)

BANDUNG – Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama raksasa kedirgantaraan dunia, Boeing, resmi memulai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem inovasi nasional. Melalui peluncuran program Boeing University Innovation Leadership Development (BUILD) Indonesia 2026 di Aula Timur Kampus Ganesha, Senin (4/5/2026), kedua pihak sepakat untuk menciptakan jalur cepat bagi mahasiswa dan perusahaan rintisan untuk masuk ke dalam rantai pasok industri dirgantara internasional.

Program yang dimotori oleh Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) ITB ini bukan sekadar ajang kompetisi ide, melainkan sebuah inkubator kepemimpinan dan inovasi yang dirancang khusus bagi mahasiswa serta alumni muda. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa setiap gagasan teknologi yang muncul dari bangku kuliah memiliki relevansi kuat dengan kebutuhan industri nyata di masa depan.

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menegaskan bahwa kemitraan ini merupakan solusi atas kendala konektivitas yang selama ini dialami oleh para inovator lokal. Ia melihat kehadiran Boeing akan memberikan dampak signifikan pada keberhasilan hilirisasi riset di Indonesia.

“Selama ini, banyak calon pengusaha teknologi yang belum terhubung secara langsung dengan industri besar. Melalui BUILD, Boeing berperan sebagai jangkar yang menghadirkan mentor dan membangun ekosistem, sehingga peluang keberhasilan inovasi hingga ke tahap hilirisasi menjadi lebih tinggi,” ujar Prof. Tatacipta dalam sambutannya. Beliau juga menambahkan bahwa sektor kedirgantaraan memiliki cakupan teknologi yang sangat luas, mulai dari material canggih hingga bahan bakar berkelanjutan yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Dr. M. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., menilai kolaborasi ini sebagai model ideal yang mengintegrasikan dunia pendidikan dengan tuntutan industri global. Program ini diharapkan dapat memicu lahirnya perusahaan rintisan baru yang berbasis pada riset mendalam.

Bacaan Lainnya

“Bidang kedirgantaraan merupakan akar dari banyak inovasi teknologi. Kolaborasi seperti ini tidak hanya memperkuat riset, tetapi juga membuka peluang lahirnya perusahaan rintisan dan ekosistem industri baru yang berdampak luas,” ungkap Dr. M. Fauzan. Ia juga melihat potensi besar dalam pengembangan material unggulan nasional, seperti nikel, yang bisa dioptimalkan untuk teknologi kedirgantaraan maju melalui riset yang tepat sasaran.

Sementara itu, Managing Director Boeing Indonesia, Indra Duivenvoorde, menjelaskan bahwa BUILD 2026 akan memberikan pengalaman belajar yang intensif hingga September 2026. Peserta tidak hanya akan dibekali kemampuan teknis, tetapi juga soft skills kepemimpinan yang krusial di dunia profesional.

“Program ini berfokus pada pengembangan solusi di bidang kedirgantaraan dan pertahanan, termasuk teknologi keberlanjutan dan dampak sosial. Lebih dari sekadar keterampilan teknis, BUILD bertujuan membangun kepemimpinan, kepercayaan diri, serta kemampuan kolaborasi lintas sektor,” jelas Indra.

Sebagai bentuk dukungan nyata, tiga tim terbaik dari program ini akan dianugerahi total pendanaan sebesar 12.500 dolar AS. Selain modal finansial, para pemenang akan mendapatkan bimbingan lanjutan selama enam bulan di lingkungan ITB untuk memastikan ide mereka siap diimplementasikan secara luas. Inisiatif ini menandai babak baru bagi posisi Indonesia dalam peta persaingan industri dirgantara global melalui kekuatan inovasi generasi muda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *