Menurutnya, perubahan paradigma pembangunan desa membutuhkan pemimpin yang adaptif, visioner, dan memiliki kemampuan tata kelola modern berbasis data dan teknologi.
“Kalian akan turun ke lapangan dalam era yang sangat berbeda. Data menjadi bahan bakar pengambilan keputusan, transparansi menjadi tuntutan, dan teknologi menjadi infrastruktur kehidupan,” ujar Menteri Desa dan PDT di hadapan para Praja.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Desa dan PDT juga mendorong penguatan kolaborasi antara Kementerian Desa dan PDT dengan IPDN. Ia mengusulkan integrasi program pra-PKL, penguatan modul pembangunan desa, hingga penempatan lulusan terbaik IPDN untuk mendukung tata kelola pemerintahan desa yang profesional dan kredibel.
Ia berharap para Praja IPDN dapat menjadi akselerator pembangunan desa sekaligus penggerak perubahan di tengah masyarakat.
“Jangan hanya menunggu instruksi dari atas. Desa membutuhkan pemimpin yang mampu membaca potensi lokal, menggerakkan masyarakat, dan mengelola sumber daya dengan bijak,” pesannya.
Kegiatan Studium Generale tersebut berlangsung penuh antusias dan menjadi momentum penguatan sinergi antara dunia pendidikan kepamongprajaan dengan agenda besar pembangunan desa dan daerah tertinggal di Indonesia.







