Pakar Soroti Kontras Perjuangan Fatimah dan Dampak Langkah Politik Gibran Jokowi

Fatimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI. (Foto: BeriSatu)

JAKARTA – Gelombang kritik terhadap konstelasi kepemimpinan nasional kembali memanas setelah mantan Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham), Denny Indrayana, menyampaikan pernyataan terbuka yang menyandingkan semangat pergerakan mahasiswa dengan kinerja elite pemerintahan saat ini. Pakar hukum tata negara tersebut secara tajam membandingkan ketulusan aktivisme Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, dengan sosok Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dinilainya justru merusak tatanan bangsa.

Dalam pandangannya, Denny menilai bahwa daya dorong perubahan politik dan moral bangsa sejak era pra-kemerdekaan hingga Reformasi 1998 selalu bersumber dari keberanian murni pemuda dan mahasiswa yang konsisten menyuarakan kebenaran di lapangan. Sikap pantang menyerah Fathimah saat berhadapan dengan aparat kepolisian dalam aksi demonstrasi menuju Bundaran HI dinilai menjadi wujud nyata dari spirit perjuangan antikorupsi dan keadilan pemilu yang dibutuhkan Indonesia hari ini.

“Fatimah saya tidak mengenalnya. Kami tidak pernah bertemu. Tapi hari-hari ini saya melihat kami bersatu dalam semangat perlawanannya. Dalam sikap kritisnya ketika berhadapan dengan kekuasaan. Ketika berdebat dengan polisi yang menghalangi jalan mereka berdemonstrasi ke Bundaran Hotel Indonesia, yang sudah tidak ada lagi hotelnya. Lihatlah Bunderan HI, semua adalah hotel asing di sana. Nama Indonesia, tidak lagi ada di sana,” tulis Denny di akun X.

Denny menegaskan penilainnya secara eksplisit dengan menempatkan kedua figur tersebut pada dua poros nilai yang berseberangan. Menurutnya, kejujuran serta keselarasan antara gagasan dan tindakan merupakan fondasi utama dari wibawa seorang pemimpin maupun aktivis.

“Bagi saya Fatimah adalah harapan. Gibran tidak. Maafkan saya menyatakan apa adanya. Banyak yang menasehati saya untuk lebih diplomatis. Tapi saya rasa berbicara apa adanya akan lebih sampai pesan moralnya,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Ia menambahkan kritik substantif terkait kontribusi idealisme mahasiswa dibanding performa pejabat publik. Denny menyebut narasi perlawanan Fathimah membawa penyegaran bagi nilai-nilai nasionalisme di tengah situasi politik yang diwarnai kecurangan dan nepotisme.

“Fatimah memperjuangkan Indonesia, Gibran bin Jokowi justru merusaknya. Membaca artikel “Bangsaku” dari Fatimah memberikan siraman air segar nasionalisme ke dalam tenggorokan kering kami,” lanjut dia.

Lebih lanjut, Denny menyoroti kualitas komunikasi politik kepemimpinan nasional yang dianggap kehilangan greget perjuangan, bahkan jika dibandingkan dengan pidato-pidato resmi di panggung kenegaraan.

“Mendengar beberapa menit Fatimah dengan orasinya, saya rasakan lebih punya kekuatan perjuangan dibandingkan pidato berjam-jam Presiden Prabowo yang cenderung membosankan, dan tidak jarang salah hitung penjumlahan, atau salah baca angka, hingga menjadikan pengupas bawang menjadi orang kaya baru di Indonesia,” katanya.

Selain mengkritik orasi kepemimpinan puncak, Denny menekankan pentingnya transparansi rekam jejak moral demi menjaga kepercayaan publik. Ia kembali mengangkat persoalan kontroversi ijazah pendidikan yang terus membayangi sosok Wapres.

“Ketika Fathimah menyampaikan teriakannya, yang kita dengar adalah perjuangan yang tulus tentang Indonesia antikorupsi. Tentang bangsa yang berjuang untuk bersih dari keculasan pemilu, dari kecurangan pengadaan alutsista, dan dari korupsi gizi dan koperasi. Kuncinya adalah pada kejujuran, pada konsistensi, pada kesamaan antara orasi dan aksi. Sedikit saja terlihat ada warna kemunafikan, maka kekuatan dan wibawa pesan itu pasti menghilang. Sebagaimana ijazah SMA atau setara Mas Gibran yang gaib bin raib hingga kini,” sambung dia.

Mengakhiri pernyataannya, pakar tata negara ini memberikan catatan kritis yang menantang posisi politik Kepala Negara di tengah tarik-menarik antara idealisme kepemudaan dan pragmatisme kekuasaan.

“Pertanyaannya, ada dimana kita? Ada dimana saya dan Presiden Prabowo? Kalau Fatimah dan semua rekan mahasiswa dan para pemuda, mereka jelas posisinya. Sejarah telah membuktikan, bahwa ketulusan perjuangan mahasiswa dan kaum muda adalah penyelamat bangsa sejak Rengasdengklok hingga lahirnya reformasi 1998. Ada dimana anda, Bapak Presiden Prabowo? Apakah ada di pusaran kejujuran, atau masuk jurang kemunafikan?” tutupnya.

Pos terkait