Gaya Komunikasi Prabowo Dikritik Tak Sejalan dengan Kebiasaan Membaca

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Foto: ANTARA)

JAKARTA — Kebiasaan membaca buku dalam jumlah besar rupanya tidak menjadi jaminan bagi seorang pemimpin untuk secara otomatis mampu mengemas komunikasi publik yang bijak, intuitif, dan peka terhadap kondisi emosional masyarakat.

Sorotan tajam ini mengemuka seiring munculnya kritik mengenai gaya wicara serta gesture Presiden Prabowo Subianto yang dinilai kerap berseberangan dengan ekspektasi kepemimpinan.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Pangi Syarwi Chaniago, melontarkan pandangan kritis terkait dinamika komunikasi kepala negara tersebut. Menurutnya, kapasitas intelektual yang dibangun dari kebiasaan membaca intensif mestinya dapat tecermin dari artikulasi wicara yang terstruktur serta matang di ruang publik.

“Jadi bagaimana mungkin seorang presiden yang bacaannya 50 buku per hari, yang sering keluar negeri beli buku, rajin baca, tapi pidatonya tak mencerminkan orang yang intelektual,” kata Pangi, dilansir dari WartaEkonomi.

Pangi menilai, esensi utama kepemimpinan terletak pada kepiawaian mengolah pengetahuan menjadi narasi yang menyejukkan serta menghormati publik. Namun, pengamatan terhadap performa wicara terkini justru memperlihatkan ekspresi serta gestur fisik yang dinilai berisiko mereduksi wibawa kenegaraan.

Bacaan Lainnya

“Ngeledek-ngeledek rakyat gitu. Apa ya istilahnya. Meledek-ledek itu artinya seperti ngejek gitu dengan gerakan gestur nyenye-nyenye, dengan gerakan wajah seperti itu, seperti bukan seorang presiden,” ujar Pangi.

Atas fenomena tersebut, muncul persoalan mendasar terkait reputasi kepemimpinan di mata umum. “Gimana wibawanya,” sambungnya.

Sorotan tidak berhenti pada ekspresi wajah semata, melainkan juga menyasar beberapa perilaku non-verbal saat menyampaikan pidato. Pangi menilai gestur-gestur spontan tersebut memicu kebingungan publik atas standar etika wicara seorang pemimpin negara.

“Sementara kalau kita lihat yang mengejek tadi dengan gerakan lidah manyun menjulur itu misalnya, kita kaget. Kok bisa begini,” katanya.

Guna memperjelas komparasi gaya retorika, Pangi menyandingkan performa tersebut dengan pendekatan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Meski kerap diidentikkan dengan preferensi bacaan yang terkesan populis, Jokowi dinilai memiliki kepekaan emosional yang lebih adaptif saat berhadapan dengan rakyat.

“Ketika beliau baca 50 buku, kok seolah-olah pidatonya Pak Jokowi dianggap lebih bisa jaga perasaan rakyat gitu, yang bacaannya cuma komik Doraemon sama Sinchan kan bacaannya,” tutur Pangi.

Ujian terhadap presisi komunikasi tersebut kian menguat kala Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2026).

Saat memperkenalkan seorang warga berstatus buruh harian asal Kabupaten Bogor bernama Susana, pernyataan yang disampaikan kepala negara memicu kontroversi akibat kekeliruan data lapangan mengenai besaran upah kerja.

“Hari ini hadir bersama kita, Ibu Susana dari Kabupaten Bogor, dia bekerja sebagai buruh harian. Mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram,” kata Prabowo.

Penyampaian angka yang dinilai janggal dan jauh dari fakta riil buruh kupas bawang tersebut mempertegas bahwasanya kebiasaan membaca literatur tinggi tetap membutuhkan kehati-hatian, validasi data, serta pemahaman atas realita sosial agar pesan kenegaraan tidak memicu polemik lanjutan di tengah masyarakat.

Pos terkait