Pakistan Siap Gelar Putaran Kedua Negosiasi AS–Iran, Upaya Jaga Gencatan Senjata

Dubes Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi saat berbicara di Universitas Paramadina, Jakarta, Sabtu, 11 April 2026. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Pakistan kembali menunjukkan peran strategisnya dalam meredakan konflik global dengan menawarkan diri sebagai tuan rumah putaran kedua perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah ini muncul setelah perundingan awal di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan final.

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa pembicaraan lanjutan tersebut masih dalam tahap pembahasan, meskipun kedua pihak telah menunjukkan sinyal untuk melanjutkan dialog sebelum masa gencatan senjata berakhir. Islamabad diperkirakan kembali menjadi lokasi utama, sebagaimana perundingan sebelumnya.

Seorang pejabat Pakistan menegaskan bahwa proses diplomasi ini bukan sekadar pertemuan satu kali, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan untuk mencapai perdamaian. Hal ini sejalan dengan dinamika konflik yang masih menyisakan sejumlah isu krusial. Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menegaskan posisi negosiasinya tetap konsisten.

“Tim negosiasi telah memperjelas garis merah AS. Keputusasaan Iran mencapai kesepakatan hanya akan meningkat dengan blokade angkatan laut Presiden Trump yang sangat efektif yang sekarang berlaku,” kata Karoline Leavitt.

Sementara itu, sumber dari Iran menegaskan sikap negaranya yang tidak ingin terburu-buru dalam mencapai kesepakatan.

Bacaan Lainnya

“Iran tak terburu-buru, dan sampai AS menyetujui kesepakatan yang wajar, tidak akan ada perubahan Selat Hormuz,” ujarnya.

Putaran pertama perundingan yang berlangsung sebelumnya berakhir tanpa kesepakatan, meskipun berlangsung intensif. Perbedaan utama terletak pada tuntutan Amerika Serikat terkait penghentian program nuklir Iran, sementara Iran bersikeras mempertahankan hak pengayaan uranium serta kendali atas Selat Hormuz.

Meski belum mencapai titik temu, keberlanjutan dialog dinilai penting untuk menjaga stabilitas kawasan dan mempertahankan gencatan senjata yang masih rapuh. Peran Pakistan sebagai mediator pun semakin mendapat sorotan sebagai jembatan diplomasi di tengah konflik yang berdampak luas terhadap geopolitik dan ekonomi global.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *