JAKARTA – PDI Perjuangan (PDIP) melontarkan kritik tajam terkait rencana kunjungan kerja Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi), ke berbagai daerah yang dijadwalkan pada Juni mendatang. Juru Bicara PDIP, Ansy Lema, menilai aktivitas tersebut tidak lagi memiliki relevansi bagi partainya dan justru berpotensi memicu keretakan dalam soliditas pemerintahan saat ini di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Ansy menegaskan bahwa keberadaan tokoh politik besar yang terus melakukan manuver di tengah masa kerja pemerintah dapat membingungkan arah kepemimpinan nasional. Ia menekankan pentingnya satu komando tunggal dalam menjalankan roda pemerintahan agar tidak terjadi tumpang tindih pengaruh atau dualisme kekuatan politik.
Menurut PDIP, partai-partai koalisi pendukung Prabowo-Gibran seharusnya mempertanyakan urgensi dari safari yang dilakukan Jokowi tersebut. Ansy mempertanyakan apakah langkah ini murni untuk mendukung program pemerintah atau merupakan strategi jangka panjang untuk kepentingan pribadi.
“Ataukah hari ini sebenarnya lebih dilihat sebagai sebuah manuver politik yang arahnya sebenarnya menuju kepada kepentingan kontestasi di 2029,” ujar Ansy dalam keterangannya di acara Inside Politics CNN Indonesia, Selasa (2/6/2026).
Ia menambahkan bahwa saat ini pemerintahan Prabowo-Gibran tengah berada pada fase krusial menuju dua tahun kepemimpinan. Segala bentuk tindakan yang tidak sinkron dengan visi Presiden dikhawatirkan akan merusak harmoni dan konsolidasi internal Kabinet Merah Putih.
Ansy mengibaratkan kepemimpinan nasional sebagai sebuah orkestra yang hanya boleh memiliki satu konduktor. Kehadiran figur lain yang menonjol di luar struktur pemerintahan resmi dianggap dapat mengganggu fokus kerja Presiden yang sedang berupaya menjawab persoalan riil rakyat, seperti penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.
“Karena hari ini kita tahu bahwa Presidennya itu adalah Prabowo Subianto dan Presiden Prabowo itu ibarat matahari. Kalau dalam orkestrasi itu ibarat konduktor tunggal yang memimpin untuk menghasilkan sebuah harmoni yang sangat baik,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia memberikan peringatan kepada seluruh partai politik koalisi agar tidak terjebak dalam agenda masing-masing yang dapat mendistorsi rencana kerja nasional.
“Ingat, tidak boleh ada matahari yang lebih dari satu. Semuanya harus fokus. Kita bisa bayangkan kalau ada sepuluh parpol pendukung pemerintah dan masing-masing parpol punya agendanya. Kita bisa pastikan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini pasti tidak akan berhasil,” tambah Ansy.
Di sisi lain, mantan Presiden Jokowi sebelumnya telah menyatakan kesiapan fisiknya untuk kembali menyapa masyarakat di daerah. Setelah merasa pulih total dari kondisi kesehatannya, Jokowi mengaku telah menerima banyak undangan dan berencana memberikan motivasi langsung kepada warga dalam lawatan-lawatan mendatang.
Namun, bagi PDIP, energi bangsa saat ini seharusnya sepenuhnya didedikasikan untuk menyukseskan program kerja Presiden Prabowo, bukan justru tersedot pada aktivitas simbolis yang berpotensi menciptakan persepsi adanya persaingan pengaruh di panggung politik nasional.







