Dadan Hindayana dan Badai Kontroversi di Tubuh BGN

Dadan Hindaya dicopot jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. (Foto: Disway.id)

JAKARTA – Presiden secara resmi memberhentikan Dadan Hindayana dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada Selasa (2/6/2026). Langkah tegas ini diambil usai evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Dadan dalam mengawal program prioritas nasional, Makan Bergizi Gratis (MBG), selama satu setengah tahun terakhir. Tampuk kepemimpinan kini dialihkan kepada Nanik Sudaryati Deyang yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BGN.

Menteri Sekretariat Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa keputusan mutasi kepemimpinan ini didasarkan pada hasil pemantauan berkala yang dilakukan langsung oleh Kepala Negara.

“Maka, pada hari ini, Selasa tanggal 2 Juni tahun 2026, Bapak Presiden mengambil keputusan untuk melakukan pergantian pimpinan BGN,” ucap Prasetyo di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta.

Sorotan tajam yang mengiringi pencopotan ini berpusat pada kegagalan mitigasi risiko kesehatan dalam pelaksanaan MBG. Data resmi Kementerian Kesehatan mencatatkan angka yang mengkhawatirkan: sebanyak 446 kasus keracunan terjadi dengan total korban mencapai 37.693 orang hingga awal Mei 2026. Kasus-kasus tersebut tersebar luas di 220 kabupaten/kota pada 36 provinsi di Indonesia.

Puncak eskalasi krisis ini terjadi pada September 2025 ketika 657 pelajar di Jawa Barat mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Tidak berselang lama, insiden serupa juga dilaporkan meluas ke berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Kalimantan Selatan, yang memicu keraguan publik atas standar higienitas katering mitra lembaga.

Bacaan Lainnya

Di samping krisis keamanan pangan, BGN juga diterpa isu pemborosan anggaran pengadaan barang mewah yang dinilai janggal dan beraroma korupsi karena harganya di atas pasar.

Pada tahun lalu, BGN menggelontorkan dana sebesar Rp113,9 miliar guna menyewa jasa event organizer (EO), membeli 21.000 unit sepeda motor listrik berharga fantastis Rp42 juta per unit, hingga pengadaan barang sekunder seperti handuk mandi dan sikat semir sepatu senilai miliaran rupiah.

Selama memimpin, Dadan kerap memicu polemik publik akibat pernyataan yang dinilai keliru, seperti klaim personal mewajibkan anak minum susu dua liter per hari demi mengejar tinggi badan, hingga usulan penggunaan belalang dan ulat sagu sebagai protein alternatif dalam menu harian sekolah.

“Mungkin saja ada satu daerah suka makan serangga (seperti) belalang, ulat sagu, bisa jadi bagian protein,” kata Dadan dalam pemaparannya di Rapimnas Perempuan Indonesia Raya, Sabtu (25/1/2025).

Sesaat sebelum dicopot, sekembalinya dari ibadah haji 2026, Dadan bahkan mewacanakan ekspansi program MBG untuk pelajar Indonesia di Jeddah, Arab Saudi, yang memicu kritik tajam lantaran problem domestik belum tuntas teratasi.

“Mereka mengetahui adanya program MBG dan juga menginginkan program itu. Saya sampaikan, saya akan lapor Presiden terlebih dahulu,” ujar Dadan saat dihubungi pada Selasa (2/6/2026) dikutip dari Tempo.

Dengan adanya pergantian kepemimpinan ini, pemerintah berharap Badan Gizi Nasional dapat segera membenahi sistem tata kelola anggaran serta memperketat kontrol kualitas pangan demi melindungi keselamatan jutaan anak di Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *