“Mereka datang dari luar Jogja, itu artinya mereka menaruh hormat pada budaya kita. Maka sudah sepantasnya kita berikan pengenalan yang benar. Kita ingin mereka menjadi ‘Duta Jogja’ yang mampu bercerita dan mempromosikan citra positif Yogyakarta saat mereka kembali ke daerah asalnya masing-masing,” jelas Gus Hilmy.
Selama ini, lanjut salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogayakarta tersebut, pengetahuan mahasiswa tentang Jogja seringkali hanya didapat dari percakapan santai di ruang publik atau angkringan. Melalui kurikulum resmi, Gus Hilmy meyakini para pelajar akan mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif dan autentik tentang Jogja yang sebenarnya.
“Memang, mengenal Jogja bisa dari mana saja. Dari angkringan, dari pergaulan sehari-hari, tapi jauh akan lebih baik jika penganalan dilakukan secara komprehensif. Tidak semua kota bisa melakukan ini,” tegas Gus Hilmy.
Lebih jauh, Gus Hilmy berharap penerapan Pendidikan Khas keJogjaan ini dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas sosial di wilayah Yogyakarta. Gus Hilmy menaruh harapan besar bahwa penanaman nilai-nilai luhur budaya dapat menjadi instrumen preventif dalam menekan angka kenakalan remaja, seperti klitih maupun penyalahgunaan narkoba.
“Kami optimistis, dengan pemahaman budaya yang kuat dan tertanam sejak dini di bangku pendidikan, nilai-nilai kemanusiaan dan keberadaban akan menjadi rem alami bagi generasi muda kita untuk menghindari tindakan-tindakan negatif,” pungkas Gus Hilmy.







