BEKASI – Kecelakaan tragis antara kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4/2026) menyisakan duka mendalam. Insiden yang terjadi sekitar pukul 20.50 WIB ini mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia serta 81 lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa tersebut kini menjadi sorotan publik, terutama terkait dugaan awal penyebab kecelakaan yang melibatkan insiden lain di perlintasan rel.
Berdasarkan informasi sementara, tabrakan terjadi dengan sangat keras hingga menyebabkan kereta jarak jauh menembus bagian belakang rangkaian KRL yang sedang berhenti di stasiun. Gerbong paling belakang yang merupakan gerbong khusus wanita mengalami kerusakan paling parah akibat benturan tersebut. Video yang beredar menunjukkan betapa dahsyatnya tabrakan, di mana bagian gerbong KRL hancur setelah dihantam dari belakang.
Salah satu saksi selamat, Andi (42), mengungkapkan bahwa bagian yang terdampak langsung adalah gerbong wanita. “Yang ditabrak gerbong paling belakang, gerbong khusus wanita itu yang paling belakang,” ujarnya di lokasi kejadian, dilansir detik.com. Kepanikan juga terjadi di dalam kereta, di mana para penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan cara memecahkan kaca.
Pengalaman mencekam turut disampaikan oleh penumpang lainnya, Rendi Pangestu, yang saat itu berada di dalam KRL. “Saya ngobrol sama kakek-kakek, baru dua kalimat saya lontarkan tiba-tiba guncangan terjadi ditabrak kereta. Saya rasa kenceng banget itu karena kayaknya yang berada di 4-5 gerbong itu sampai mental gimana orang yang paling belakang,” kata Rendi.
Dugaan sementara mengarah pada insiden taksi yang tertemper KRL di perlintasan dekat lokasi kejadian sebelum tabrakan utama terjadi. Taksi tersebut dilaporkan berhenti di tengah lintasan, sehingga menyebabkan gangguan operasional kereta. Situasi ini diduga memicu berhentinya salah satu KRL di area stasiun, yang kemudian tertabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut masih dalam tahap investigasi awal. “Perlu saya sampaikan juga kejadian ini di jam kurang jam 21.00 WIB kurang, dimulai dengan adanya temperan taksi hijau ya, itu di JPL 85. Sehingga ini yang kami curigai itu membuat sistem perkeretaapian di daerah stasiun emplasemen Bekasi Timur ini agak terganggu. Sementara itu kronologinya,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya menyerahkan proses penyelidikan lebih lanjut kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). “Tentunya kami menyerahkan kepada KNKT untuk lebih detail mencari tahu penyebab dari kecelakaan kereta pada malam hari ini,” tuturnya.
Sementara itu, proses evakuasi berlangsung intensif sejak malam hingga pagi hari. Tim Basarnas harus melakukan pemotongan bagian gerbong untuk mengeluarkan korban yang terjepit. Kepala Basarnas, M Syafii, mengatakan bahwa pihaknya berupaya maksimal untuk menyelamatkan korban. “Masih ada beberapa korban yang masih dinyatakan hidup, namun kondisinya masih dalam kondisi terjepit sehingga kita akan berupaya untuk secepat mungkin bisa memisahkan antara logam-logam yang menjepit dan kita bisa evakuasi korban,” ujarnya.
Hingga Selasa pagi, tiga korban yang sebelumnya terjebak berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup. Meski demikian, tim gabungan masih terus melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada korban lain yang tertinggal di dalam rangkaian kereta.
Insiden ini menjadi pengingat penting akan keselamatan di perlintasan sebidang dan koordinasi sistem transportasi rel. Investigasi mendalam diharapkan mampu mengungkap penyebab pasti sekaligus mencegah kejadian serupa di masa mendatang.







