TRENGGALEK — Sektor olahraga pencak silat di Kabupaten Trenggalek kini tengah menghadapi momentum krusial untuk mengikis polemik eksternal yang kerap mencoreng marwah seni bela diri.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek mengambil langkah taktis dengan mengalihkan fokus energi komunal persilatan dari potensi gesekan horizontal di luar arena menuju panggung kompetisi resmi formal yang berorientasi pada pencapaian prestasi.
Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui pembukaan ruang kompetisi dalam ajang bertajuk “Bupati Cup Trenggalek Open Pencak Silat Tournament 2026”.
Turnamen skala terbuka yang difasilitasi penuh oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) ini direncanakan bakal berlangsung pada 25 hingga 26 Juli 2026, bertempat di GOR Gajah Putih Trenggalek. Agenda ini sekaligus memecah kebuntuan minimnya kompetisi terbuka di wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Dispora Trenggalek, Arief Setiawan, mengonfirmasi dukungan penuh otoritas daerah terhadap inisiasi ini, baik dari aspek legalitas birokrasi maupun pemanfaatan infrastruktur olahraga milik daerah. Kendati demikian, pihak pemerintah memberikan catatan kritis mengenai pentingnya komitmen kolektif dari pihak penyelenggara dan ikatan perguruan untuk menjamin situasi yang kondusif.
“Kami sangat mendukung, baik dari sisi rekomendasi maupun penggunaan tempat karena rencananya dilaksanakan di GOR milik pemerintah daerah. Namun kami juga berpesan kepada teman-teman IPSI agar menjaga kondusivitas selama kegiatan berlangsung,” ujar Arief, Kamis (11/6/2026) dilansir dari KabarTrenggalek.
Kebijakan ini diambil sebagai respons kritis terhadap persepsi publik yang kerap kali mengidentifikasikan pencak silat dengan dinamika konflik kelompok. Pemerintah menegaskan bahwa fungsi esensial dari olahraga bela diri sebetulnya berada pada wilayah penguatan karakter kepribadian serta pembuktian capaian prestasi fisik, bukan perselisihan sektoral di ranah publik.
“Kami ingin menunjukkan bahwa silat di Kabupaten Trenggalek aman dan tidak selalu berakhir dengan konflik. Yang harus lebih ditonjolkan adalah prestasinya,” tegasnya.
Arief menambahkan bahwa masyarakat luas perlu disadarkan kembali mengenai nilai-nilai luhur pencak silat yang mampu melahirkan prestasi dan membangun karakter, bukan identik dengan konflik yang sesekali mencuat di luar arena.
Melalui pendekatan turnamen terbuka ini, talenta-talenta muda lokal yang selama ini terisolasi dari turnamen besar akan mendapatkan panggung bertanding yang setara.
Mengingat status kejuaraan yang bersifat terbuka (open), rivalitas tidak hanya akan melibatkan internal pesilat lokal, melainkan juga mengundang kontestan dari berbagai lintas daerah. Kehadiran kompetitor luar daerah ini diproyeksikan menjadi indikator objektif bagi atlet Trenggalek dalam mengukur kedalaman kemampuan teknik sekaligus memperkaya jam terbang bertanding mereka.
“Harapannya muncul atlet-atlet baru yang selama ini belum terlihat. Karena ini kejuaraan open, kemungkinan akan diikuti peserta dari luar daerah sehingga bisa menjadi sarana mengasah kemampuan atlet-atlet Trenggalek,” katanya.
Secara teknis, panitia pelaksana membagi kompetisi ke dalam pelbagai kategori yang variatif, meliputi nomor tanding, tunggal bebas, hingga seni jurus. Adapun klasifikasi kepesertaan disusun secara inklusif mencakup kelompok usia pra usia dini, usia dini, pra remaja, remaja, mahasiswa, dewasa, hingga kategori umum.
Untuk merangsang partisipasi, disiapkan stimulus berupa total hadiah senilai Rp10 juta, uang pembinaan khusus pelatih, piala tetap Bupati Trenggalek, medali, sertifikat, serta aneka door prize.
Salah satu aspek perlindungan yang menjadi terobosan pada turnamen ini adalah kepastian proteksi risiko fisik, di mana seluruh peserta yang bertanding akan dijamin oleh perlindungan BPJS Ketenagakerjaan selama masa kejuaraan.
Kolaborasi sinergis antara IPSI, KONI, dan Dispora diharapkan mampu memulihkan citra positif pencak silat Trenggalek sebagai simbol olahraga prestasi yang mutlak menjunjung tinggi sportivitas, rajutan persaudaraan, dan iklim kompetisi yang sehat.






