JOMBANG – Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, tinggal menghitung jam. Namun, atmosfer ajang tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia ini justru memanas akibat mencuatnya indikasi “cipta kondisi” serta intervensi kekuasaan terhadap para pemegang hak suara.
Rangkaian kejanggalan terendus dari penanganan sejumlah rombongan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU). Bukannya langsung diarahkan menuju arena utama Muktamar di Jombang, sejumlah rombongan pengurus daerah, termasuk dari PCNU Babat dan PCNU Bojonegoro justru dibelokkan ke Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, di bawah pengawalan ketat. Secara geografis, rute perjalanan menuju Surabaya tersebut memutar dan tidak efisien bagi rombongan dari kawasan barat Jawa Timur.
Pengetatan arus masuk di lokasi transit tersebut memicu tanda tanya besar. Begitu tiba di Asrama Haji Sukolilo dengan armada kendaraan kecil, hanya Rais Syuriah dan Ketua PCNU yang diperkenankan melangkah masuk ke dalam kompleks. Sementara itu, tim pengantar maupun pengawal rombongan dilarang keras mendampingi.
Seorang Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor asal Jawa Tengah membeberkan ketegangan yang terjadi di lokasi penampungan sementara tersebut. Ia mengonfirmasi bahwa pergerakan misterius ini tidak hanya menyasar dua cabang di Jawa Timur, melainkan telah berlangsung secara masif pada sejumlah rombongan lain.
“Bukan hanya mereka. Sebelumnya sudah ada banyak, tapi saya tidak bisa merinci berapa,” kata sumber tersebut saat memberikan keterangan di Jakarta, dilansir dari AFU.id.
Situasi di dalam kompleks transit digambarkan sangat tertutup dan berjarak dari jangkauan publik. Seluruh jajaran elite PCNU yang telah menginjakkan kaki di dalam area asrama tidak diperkenankan keluar hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
“Suasana di asrama haji sangat tertutup dan tegang. Dijaga dengan ketat,” ungkapnya.
Pola isolasi menjelang penentuan kepemimpinan ini memicu kekhawatiran mendalam atas terancamnya independensi Muktamar ke-35 NU. Rais Syuriah dan Ketua PCNU merupakan pemegang mandat kunci yang memegang hak suara sah untuk menentukan arah PBNU masa khidmah 2026-2031, termasuk memilih anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), Rais Aam, hingga Ketua Umum PBNU.
Meskipun kebenaran motif pembelokan rute ini belum dionfirmasi secara resmi oleh penyelenggara, dugaan intervensi politik tingkat tinggi menguat. Keterangan sumber internal menuding adanya keterlibatan pejabat negara berlevel menteri yang bertindak sebagai jenderal lapangan dalam skenario pengondisian ini, dibantu oleh personel bersikap tegas berpostur tegap dan berambut rapi di lapangan.
Pihak panitia Muktamar, pengelola Asrama Haji Sukolilo, maupun PBNU hingga kini belum memberikan klarifikasi resmi atas penahanan rombongan pemilik suara tersebut. Upaya pembelokan rute dan penggiringan peserta ini berpotensi mencoreng nilai-nilai khidmah dan transparansi Muktamar yang dijadwalkan dibuka oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis malam.







