Jelang Muktamar Jombang, Katib Syuriyah PBNU Ajak Jaga Kemandirian, Tolak Intervensi Musuh Bersama

Anggota DPD RI, Hilmy Muhammad tanggapi musibah pesantren di Sidoarjo. (Foto: Harianindo.id)

“Kita ingatkan kembali pesan historis pendirian NU yang sarat makna filosofis dan spiritual melalui tongkat dan tasbih Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari. Di antaranya kita maknai bahwa kepemimpinan NU diamanahkan dengan penuh kehati-hatian, ketulusan, dan syaja’ah atau keberanian. Keduanya adalah simbol kepemimpinan kiai yang kokoh dan sakral, bukan untuk mainan dan cengengesan, apalagi komoditas tawar-menawar politik pragmatis, dan tidak boleh diserahkan kepada pihak-pihak yang hendak mempermainkan masa depan NU demi kepentingan sesaat. Justru merekalah musuh kita bersama,” jelas Gus Hilmy.

Menurut Gus Hilmy, penyerahan kedua simbol tersebut juga disertai pesan al-‘asho liman ‘asho. Kalimat itu, lanjut Gus Hilmy, menunjukkan bahwa pemimpin NU harus memiliki kompetensi dan kapabilitas dalam mencarikan jalan kemaslahatan untuk NU.

“Ungkapan al-‘asho liman ‘asho itu ditafsirkan bahwa pemimpin NU harus mempunyai atau menjadi jalan atas setiap permasalahan dan tantangan, sehingga NU dapat berjalan sesuai tujuan dan mandatnya. Jangan bermain-main dengan tongkat, karena simbol kepemimpinan. Yang main-main justru adalah yang pantas digetok, diingatkan karena khawatir akan dapat kualat. Apalagi sampai menjerumuskan NU dengan berdampingan pada pihak luar yang ingin mengintervensi kita,” pungkas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY tersebut.

Gus Hilmy mengajak seluruh elemen Nahdliyin untuk bersatu padu, mengawal jalannya muktamar dengan khidmat, bermartabat, dan suasana penuh gembira demi menyambut hari baru NU ke depan, di abad keduanya. Kita pastikan NU senantiasa hadir sebagai penjaga akhlakul karimah serta pilar utama kebangsaan yang mandiri.

“Muktamar ini harus kita jalani dengan khidmat, bermartabat, dan penuh suasana kegembiraan. Kita menyambut lembaran baru abad kedua sesuai dengan semangat tema kita, ‘Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.’ Tema ini adalah pernyataan sikap bahwa kita menolak segala intervensi demi menjadikan NU sebagai organisasi yang berdaya dan bermartabat,” pungkas Gus Hilmy.

Bacaan Lainnya

Pos terkait