YOGYAKARTA – Menjelang pelaksanaan muktamar Jombang pada 27-27 Agustus 2026, Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Hilmy Muhammad menyampaikan seruan tegas dan terbuka kepada seluruh jajaran pengurus, kader, serta para peserta muktamar di berbagai tingkatan. Gus Hilmy mengingatkan agar NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terbesar tetap tegak menjaga marwah, kemandirian, serta kedaulatannya.
Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak tersebut mendorong pengurus NU di semua tingkatan diminta untuk tidak mudah diintervensi oleh kekuatan atau kepentingan politik maupun kelompok manapun.
“Siapapun yang mencoba mendikte, menekan, atau campur tangan dalam urusan internal organisasi harus disikapi sebagai musuh bersama yang ingin merecoki keutuhan NU. Musuh bersama harus dilawan bersama. Ini demi menjaga marwah organisasi dan kemandirian serta kedaulatan peserta muktamar,” tegas pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut melalui siaran tertulis kepada harianindo.id, Rabu (26/8/26).
Gus Hilmy, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa para peserta muktamar adalah kader pemikir dan pejuang NU yang mewakili kepengurusannya di setiap tingkatan. Mereka, menurut Gus Hilmy, memiliki kedaulatan penuh atas pilihan nurani mereka.
“Para peserta muktamar adalah kader-kader yang merdeka. Maka, jadilah kader yang independen. Gunakan hak suara dan nalar organisasi berdasarkan kemaslahatan umat, baik kepentingan mereka di tingkat cabang atau wilayah, maupun kemaslahatan dalam pengertian NU secara keseluruhan di masa yang akan datang. Jangan sampai kita berpartisipasi karena tekanan pihak luar. Masa kita mau nuruti pihak yang mau merecoki dan memanfaatkan organisasi kita?” ungkap Gus Hilmy.
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI tersebut juga merefleksikan sejarah berdirinya NU, khususnya melalui peristiwa penyerahan tongkat dan tasbih dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari melalui KH. As’ad Syamsul Arifin.







