Ketika Euforia Pasar Mengalahkan Rasio Investor

Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 1,74 persen pada perdagangan 21 Juli 2026 menjadi kabar yang disambut positif oleh pelaku pasar. Meningkatnya optimisme investor, masuknya dana asing, serta menguatnya berbagai sektor saham mendorong keyakinan bahwa pasar sedang berada dalam momentum yang baik. Tidak sedikit investor, khususnya pemula, memandang kenaikan indeks sebagai peluang untuk segera masuk ke pasar dengan harapan memperoleh keuntungan dalam waktu singkat.

Fenomena tersebut lazim terjadi di pasar modal. Namun, dari sudut pandang psikologi dan filsafat, kenaikan indeks tidak hanya mencerminkan dinamika ekonomi, melainkan juga memperlihatkan bagaimana manusia berpikir, menilai risiko, dan mengambil keputusan di bawah pengaruh emosi. Dengan kata lain, pasar saham tidak hanya menjadi arena transaksi keuangan, tetapi juga ruang yang memperlihatkan keterbatasan rasionalitas manusia.

Dalam kajian psikologi, terdapat sejumlah bias kognitif yang menjelaskan mengapa investor sering mengambil keputusan secara tidak objektif. Salah satunya adalah overconfidence bias, yakni kecenderungan individu meyakini bahwa dirinya memiliki kemampuan lebih baik daripada kenyataan dalam memprediksi arah pasar. Ketika harga saham terus menguat, sebagian investor merasa mampu membaca tren, padahal keberhasilan tersebut belum tentu berasal dari analisis yang akurat.

Bias lain yang sering muncul ialah herding behavior, yaitu kecenderungan mengikuti keputusan mayoritas tanpa melakukan analisis secara mandiri. Banyak investor membeli saham semata karena melihat orang lain memperoleh keuntungan atau karena suatu saham sedang ramai diperbincangkan.

Perilaku ini kemudian diperkuat oleh fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan ketika melihat orang lain berhasil. Dalam situasi seperti ini, keputusan investasi lebih banyak dipengaruhi oleh tekanan sosial dan emosi daripada pertimbangan rasional.

Bacaan Lainnya

Fenomena tersebut menjadi semakin menarik apabila ditinjau melalui perspektif filsafat psikologi. Disiplin ini tidak hanya menjelaskan mengapa manusia berperilaku tertentu, tetapi juga mempertanyakan hakikat berpikir manusia, sumber pengetahuan yang digunakan dalam mengambil keputusan, serta bagaimana manusia seharusnya bertindak. Pertanyaannya bukan sekadar mengapa investor mengalami FOMO, melainkan mengapa manusia yang memiliki kemampuan berpikir rasional tetap mudah dipengaruhi oleh emosi ketika menghadapi ketidakpastian.

Pemikiran Immanuel Kant memberikan perspektif yang relevan untuk memahami persoalan tersebut. Kant memandang manusia sebagai makhluk rasional yang memiliki kemampuan menggunakan akal (reason) untuk menentukan tindakan yang benar. Menurutnya, keputusan yang baik seharusnya lahir dari pertimbangan rasional, bukan dari dorongan emosi, hasrat sesaat, ataupun tekanan lingkungan. Rasio berfungsi sebagai pedoman agar manusia mampu membedakan tindakan yang didasarkan pada pertimbangan objektif dengan tindakan yang hanya mengikuti impuls.

Apabila pandangan Kant dikaitkan dengan perilaku investor saat pasar sedang menguat, tampak adanya kesenjangan antara idealitas dan realitas. Secara normatif, keputusan investasi semestinya didasarkan pada analisis fundamental perusahaan, kondisi ekonomi makro, prospek industri, serta kemampuan individu dalam mengelola risiko. Namun, dalam praktiknya, banyak keputusan justru dipicu oleh kenaikan harga jangka pendek atau optimisme kolektif. Akibatnya, keputusan investasi berubah dari proses analitis menjadi respons emosional terhadap euforia pasar.

Perspektif ontologi dalam filsafat psikologi turut memperkaya pemahaman tersebut. Ontologi mempertanyakan hakikat manusia sebagai makhluk berpikir. Apakah manusia pada dasarnya rasional, atau justru lebih sering dikendalikan oleh emosi?

Temuan psikologi menunjukkan bahwa meskipun manusia memiliki kemampuan berpikir logis, kemampuan tersebut tidak selalu menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan. Ketika menghadapi ketidakpastian, seperti fluktuasi pasar saham, aspek afektif sering kali lebih dominan daripada pertimbangan rasional.

Dari sisi epistemologi, persoalan utamanya terletak pada bagaimana investor memperoleh pengetahuan sebelum mengambil keputusan. Idealnya, keputusan investasi dibangun melalui analisis laporan keuangan, kondisi ekonomi, prospek bisnis, dan informasi yang dapat diverifikasi. Namun, perkembangan media sosial telah mengubah pola tersebut.

Tidak sedikit investor yang lebih mempercayai rekomendasi influencer, forum daring, atau opini publik daripada melakukan analisis secara mandiri. Pengetahuan yang menjadi dasar keputusan akhirnya lebih banyak dibentuk oleh persepsi kolektif daripada bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, dari perspektif aksiologi, pemahaman mengenai bias psikologis memiliki nilai praktis yang penting. Pengetahuan tentang keterbatasan cara berpikir manusia bukan sekadar untuk menjelaskan kelemahan tersebut, melainkan untuk membantu individu mengambil keputusan yang lebih bijaksana. Dalam investasi, keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menemukan saham yang sedang naik, tetapi juga oleh disiplin, kesabaran, pengendalian emosi, dan konsistensi menjalankan strategi investasi.

Pada akhirnya, euforia kenaikan IHSG hendaknya dipandang sebagai pengingat bahwa pasar keuangan bukan hanya menguji kemampuan analisis, tetapi juga menguji kualitas rasionalitas manusia. Kenaikan indeks memang dapat menciptakan optimisme, tetapi optimisme yang tidak diimbangi kemampuan berpikir kritis berpotensi melahirkan keputusan yang keliru.

Dalam konteks inilah pemikiran Immanuel Kant tetap relevan: akal budi seharusnya menjadi landasan utama dalam bertindak. Bagi investor, pelajaran terpenting bukanlah bagaimana selalu membeli pada saat harga naik, melainkan bagaimana tetap mempertahankan penilaian yang rasional ketika mayoritas orang sedang larut dalam euforia pasar.

*Nazma Azzahra, penulis adalah Mahasiswi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia

Pos terkait