Lompatan Signifikan Dekarbonisasi Kilang Pertamina Patra Niaga Perkuat Langkah Menuju Net Zero Emission

PT Kilang Pertamina Internasional terus melaju menyelesaikan Green Refinery Cilacap dengan target kapasitas produk biofuel hingga 6 ribu barel. (Dok. PT Pertamina Patra Niaga)

JAKARTA – Bertepatan dengan momentum Hari Bumi, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengumumkan pencapaian krusial dalam mendukung target nasional Net Zero Emission (NZE) 2060. Perusahaan mencatatkan keberhasilan dalam merealisasikan program dekarbonisasi di sektor kilang yang mencapai angka 95 ribu metric ton CO₂ eq hingga pengujung Triwulan I 2026. Angka ini menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat positif dalam upaya menekan jejak karbon operasional perusahaan.

Data internal menunjukkan adanya kenaikan tajam setiap bulannya sepanjang awal tahun ini. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, merinci bahwa pada Januari realisasi berada di angka 28 ribu metric ton CO₂ eq, kemudian melonjak menjadi 63 ribu metric ton CO₂ eq pada Februari, hingga akhirnya menyentuh 95 ribu metric ton CO₂ eq di bulan Maret. Menurutnya, capaian ini adalah manifestasi dari konsistensi perusahaan dalam mengimplementasikan strategi dekarbonisasi melalui efisiensi energi serta inovasi teknologi tepat guna.

“Realisasi program dekarbonisasi Pertamina Patra Niaga di Triwulan I 2026 meningkat signifikan. Ini merupakan bukti nyata, bahwa upaya yang kami lakukan terukur dan menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan,” ungkap Roberth dalam keterangannya.

Keberhasilan ini didorong oleh penerapan digitalisasi operasional melalui sistem digital twin dan sensor Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut memungkinkan pemantauan produksi secara real-time sekaligus meminimalisir waktu henti operasional (downtime), sehingga kilang bekerja lebih efisien dan hemat energi. Tidak hanya itu, Pertamina Patra Niaga juga telah mengoperasikan teknologi Carbon Capture & Utilization (CCU) di Kilang Balikpapan sebagai bagian dari proyek RDMP guna menangkap emisi CO₂ untuk dimanfaatkan kembali oleh sektor industri lain.

Langkah strategis lainnya mencakup penggunaan Flare Gas Recovery System (FGRS) untuk memanfaatkan kembali gas sisa pembakaran, serta transisi energi melalui pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lima kilang besar, yakni Balikpapan, Dumai, Plaju, Cilacap, dan Balongan dengan total kapasitas 12,37 MWp. Roberth menjelaskan bahwa penggunaan PLTS berperan penting dalam menurunkan beban operasional serta meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT).

Bacaan Lainnya

“Penggunaan PLTS mampu menurunkan beban operasional kilang dan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang merupakan bagian dari komitmen kami dalam penggunaan energi bersih dan berkelanjutan,” tambah Roberth.

Berbagai inovasi hijau ini tidak hanya memperbaiki proses hulu, tetapi juga menghasilkan produk hilir yang ramah lingkungan seperti Pertamina SAF, Pertamax Green, hingga Biodiesel (B40). Menatap sisa tahun 2026, Pertamina Patra Niaga optimistis dapat mencapai target kumulatif dekarbonisasi sebesar 500 ribu metric ton CO₂ eq.

Roberth menekankan bahwa seluruh langkah ini dijalankan berdasarkan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG). “Inovasi teknologi di kilang Pertamina Patra Niaga bukan sekadar pembaruan operasional, melainkan strategi jangka panjang untuk menyeimbangkan kebutuhan energi nasional dengan komitmen lingkungan. Produk rendah karbon seperti Pertamina SAF, Pertamina RD (HVO), Pertamax Green, dan Biodiesel (B40) adalah bukti konkret dari komitmen hijau kami,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *