JAKARTA – Penerbitan buku berjudul “Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam” menuai polemik mendalam di tengah masyarakat. Bukan hanya akibat judulnya yang dinilai sensitif dan memicu narasi sinis di media sosial, karya setebal 368 halaman terbitan Atmosphere Publishing House ini kini dihantam isu pelanggaran etika serius terkait dugaan pencatutan nama sejumlah tokoh agama nasional tanpa izin.
Buku yang ditulis oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas tersebut sebenarnya mengulas dimensi amaliah, kepemimpinan, serta kehidupan spiritual Prabowo Subianto. Diinisiasi oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar, buku ini pertama kali dirilis dalam ajang Rakornas BAZNAS 2025 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, pada 28 Agustus 2025 acara yang tidak dihadiri langsung oleh Prabowo.
Namun, kejutan besar muncul ketika belakangan beberapa figur publik keagamaan secara terbuka membantah pernah menulis atau memberikan persetujuan atas pencantuman nama mereka dalam buku tersebut. Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, menyangkal keterlibatannya saat dikonfirmasi warganet di media sosial mengenai artikel yang mencantumkan namanya di halaman 241.
“Saya tidak pernah mengirim tulisan,” tulis TGB menyikapi artikel berjudul Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan, dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan.
Kaget atas kemunculan namanya, Mantan Ketua PBNU KH Dr. Said Aqil Siraj yang diklaim menulis naskah Berislam Nusantara ala Prabowo Subianto—turut menyampaikan bantahan keras. “Tidak benar, saya tidak tau menau.. Saya pun kaget,” tegas Kiai Said melalui pesan singkat.
Nada serupa disuarakan oleh keluarga KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar). Istri Gus Kautsar, Ning Jazilah Annahdliyah, mempertanyakan mekanisme penerbitan yang dinilai merugikan suaminya melalui akun Instagram pribadi. “Kok bisa ada nama suami saya? Padahal Gus Kautsar tidak pernah menulis itu, kok bisa penulis tidak izin dulu kalau mau menyertakan nama suami saya dalam buku itu?” tulis Ning Jazilah.
Di sisi lain, Ketua Umum PP Pergunu Prof. KH Asep Saifuddin Chalim yang memang benar menyumbangkan tulisan epilog berjudul Presiden Prabowo Subianto dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, mengungkapkan bahwa dirinya telah mengingatkan panitia sejak awal. “Ketika panitia buku itu minta tulisan kepada saya, saya sudah mengingatkan sejak awal agar judulnya diubah karena sangat sensitif,” ujar Prof Asep, Minggu (6/9/2026).
Kiai Asep menegaskan tulisannya tidak berisi puja-puji atau menyejajarkan Prabowo dengan sang khalifah, melainkan harapan agar Prabowo meniru ketegangan Umar bin Abdul Aziz dalam memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). “Saya menceritakan kisah sukses Umar bin Abdul Aziz justru agar Prabowo bisa terinspirasi dan meniru dalam memberantas korupsi dan kolusi,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum FK3I Gus Maftuh mengimbau masyarakat untuk objektif dan tidak menilai buku hanya dari judulnya, melainkan memahaminya sebagai pengulasan nilai keadilan dan toleransi. Meski demikian, hingga saat ini Atmosphere Publishing House dan tim penyusun belum memberikan konfirmasi atau klarifikasi resmi mengenai gelombang bantahan dan tuduhan pencatutan nama tokoh tersebut.







