Senada dengan Veronika, warga Lombok lainnya merasakan getaran kuat yang memicu kepusingan. “Tadi saat lagi tidur tiba-tiba semua benda di kamar bergoyang, ternyata itu gempa bumi. Semoga tidak terjadi hal buruk di daerah pusat gempa,” ucap Adam.
Di sisi lain, kekhawatiran akan timbulnya gelombang tsunami sempat memaksa masyarakat pesisir mengungsi ke area perbukitan secara mandiri. Langkah antisipasi ini diambil untuk menghindari bahaya kenaikan air laut pascagempa.
“Saya pun berlindung bersama warga di perbukitan di Kelurahan Watu Nggene, untuk menghindar dari gempa susulan dan air lain naik,” dikutip dari laporan jurnalis Kompas di lapangan.
Dari sisi teknis geologi, pihak berwenang mengonfirmasi bahwa pemicu utama bencana ini berasal dari patahan aktif di kawasan perairan utara Flores. Karakteristik pergerakan ini membangkitkan memori bencana serupa puluhan tahun silam.
“Jadi memang ada sesar aktif yang di sepanjang utara Pulau Flores. Seperti juga pada tahun 1992. Jadi ini penyebabnya adalah sesar yang di utara Pulau Flores,” kata Arief .
Meski BMKG telah mengakhiri status peringatan dini tsunami secara resmi, ancaman bahaya belum sepenuhnya usai. “Untuk saat ini tapi tetap untuk masyarakat jangan jangan mendekati pantai,” katanya.
“Pengakhiran telah diterbitkan,” kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, dalam konferensi pers daring.
Saat ini Tim SAR Gabungan terus menyisir reruntuhan bangunan, seperti di kawasan Pelabuhan Maumere, untuk mencari korban yang diduga masih tertimbun material bangunan. BNPB meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan melarang keras warga memasuki bangunan retak atau rusak struktural.







