JAKARTA — Bencana gempa bumi dahsyat kembali mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). Rangkaian guncangan yang berpusat di darat dan laut tersebut melumpuhkan aktivitas masyarakat, merusak berbagai infrastruktur vital, serta menelan puluhan korban jiwa di sejumlah kabupaten.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jatuhnya puluhan korban jiwa tak terelakkan. Dampak terparah tercatat di wilayah Manggarai Raya dan sekitarnya. Gempa memicu kepanikan luar biasa hingga memaksa ribuan warga melarikan diri ke area yang lebih tinggi.
“Korban jiwa sampai dengan pukul 15:00 WIB, terdata ada 38 jiwa meninggal dunia. Dua jiwa luka berat, 11 luka ringan, dan kurang lebih ada 2.000 jiwa yang mengungsi secara mandiri,” kata Kepala BNPB, Letnan Jenderal TNI Suharyanto dalam konferensi pers, Sabtu (15/08).
BNPB merinci persebaran korban tewas meliputi 17 jiwa di Kabupaten Manggarai Timur, 16 jiwa di Kabupaten Manggarai (enam di antaranya baru berhasil teridentifikasi), tiga jiwa di Kabupaten Sikka, serta masing-masing satu jiwa di Kabupaten Ende dan Kabupaten Manggarai Barat. Angka kematian di wilayah terdampak, khususnya Nagekeo, diprediksi masih akan terus melonjak seiring proses pendataan yang berjalan di tengah keterbatasan sarana.
Peristiwa ini diawali guncangan bermagnitudo 6,2 pada pukul 06.13 WITA di kedalaman 10 km, berjarak 46 kilometer timur laut Labuan Bajo. Situasi memburuk setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang kawasan timur laut Mbay, Nagekeo.
Rentetan guncangan tersebut merusak sejumlah fasilitas publik, termasuk gedung kampus Universitas Katolik Indonesia (Unika) Ruteng, Hotel Jayakarta di Labuan Bajo, hingga memaksa evakuasi darurat para pasien RS Siloam Labuan Bajo ke halaman terbuka.
Dampak gempa tak hanya melanda NTT, tetapi juga terasa hingga ke Nusa Tenggara Barat (NTB). Warga di Kota Mataram dan Lombok berhamburan ke jalan saat jam sibuk pagi hari.
“Gempa itu bikin kaget karena terjadi saat jam sibuk menyiapkan anak ke sekolah,” kata salah seorang warga bernama Veronika saat ditemui di Mataram, NTB, Sabtu, dilansir dari BBC.







