Gerakan Desa Hijau Berbasis Riset Dimulai, IPDA Tanam Alpukat untuk Ketahanan Lingkungan dan Pangan

Ikatan Pemuda Penggerak Desa (IPDA) bersama stakeholder Kabupaten Grobogan dan Jawa Tengah acara tanam 1000 pohon alpukat. (Foto: Harianindo.id)

GROBOGAN — Upaya membangun ketahanan lingkungan sekaligus ekonomi desa mulai digagas melalui pendekatan berbasis riset dan inovasi teknologi. Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) bersama Pemerintah Desa Mojoagung, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, menginisiasi program koridor hijau produktif melalui gerakan penanaman alpukat.

Program bertajuk “Gerakan Menanam Alpukat untuk Desa Hijau” ini menjadi langkah awal dalam merespons krisis ekologis di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tuntang. Penanaman dilakukan dengan pendekatan agroforestry linear guna memperkuat struktur tanah, meningkatkan daya serap air, serta mengurangi potensi erosi dan kerusakan tanggul.

Selain berdampak ekologis, tanaman alpukat juga dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi yang dapat menjadi sumber pendapatan jangka panjang bagi masyarakat desa.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah menilai pendekatan ini sebagai langkah strategis yang menyentuh akar persoalan lingkungan.

“Pendekatan seperti ini penting karena langsung menyentuh akar persoalan. Penataan vegetasi yang tepat di tingkat desa akan sangat berpengaruh terhadap stabilitas lingkungan, khususnya dalam mengurangi risiko banjir dan erosi,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini juga dilengkapi dengan diskusi lingkungan desa yang membahas persoalan banjir, degradasi vegetasi bantaran sungai, serta pentingnya tata kelola berbasis data dan pengalaman lokal.

Perwakilan BRIDA Jawa Tengah menekankan pentingnya penguatan inovasi berbasis riset agar model desa hijau dapat berkembang lebih luas.

“Kegiatan ini menjadi contoh awal bagaimana inovasi lingkungan bisa dikembangkan dari desa. Ke depan, perlu didorong pemanfaatan data, riset, dan teknologi agar model seperti ini dapat direplikasi dan ditingkatkan skalanya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua IPDA menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar kegiatan simbolik, melainkan bagian dari transformasi paradigma pembangunan desa.

“Kami ingin mendorong desa sebagai pusat inovasi. Penanaman ini bukan sekadar kegiatan simbolik, tetapi bagian dari upaya membangun sistem ekologis desa yang produktif dan berkelanjutan, dengan melibatkan masyarakat sebagai aktor utama,” ujarnya.

Wakil Sekretaris Jenderal IPDA, Muhammad Sakur, juga menambahkan bahwa pendekatan yang digunakan berbasis kajian ilmiah dan kolaborasi lintas sektor.

“Yang kita bangun adalah model berbasis evidence. Pemilihan vegetasi, desain penanaman, hingga arah pengembangannya didasarkan pada kajian ilmiah terkait konservasi tanah dan air. Dengan keterlibatan Badan Riset dan Inovasi Nasional dan BRIDA, kita membuka ruang untuk penguatan berbasis data, sekaligus mendorong integrasi dengan skema ekonomi lingkungan dan pembiayaan hijau,” jelasnya.

Melalui kolaborasi ini, program koridor hijau produktif diharapkan menjadi model pembangunan desa yang mengintegrasikan aspek ekologis, ekonomi, dan kelembagaan secara berkelanjutan, sekaligus menggeser pendekatan dari reaktif menjadi preventif dalam menghadapi bencana lingkungan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *