Menakar Kebenaran Investasi Triliunan Dari Lawatan Prabowo

Kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto dalam 1,5 tahun terakhir mengamankan investasi senilai Rp 2.430 triliun berdasarkan data BKPM. (Dok. Kemenkop)

JAKARTA – Istana Kepresidenan buka suara terkait kritik publik mengenai tingginya frekuensi perjalanan dinas luar negeri Presiden Prabowo Subianto selama 1,5 tahun masa jabatannya. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa rangkaian kunjungan kerja tersebut berdampak nyata bagi perekonomian nasional, dengan masuknya total investasi ke Indonesia yang diklaim mencapai Rp 2.430 triliun.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Teddy untuk menepis anggapan bahwa perjalanan dinas presiden ke berbagai negara merupakan pemborosan anggaran negara. Pihak Istana menekankan bahwa setiap lawatan diplomatik dilakukan secara terukur demi membawa pulang komitmen ekonomi yang konkret.

“Total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun ini adalah sekitar Rp 2.430 triliun, itu data dari BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal),” kata dia lewat keterangan video, Senin, 1 Juni 2026, dilansir dari Tempo.

Sebagai bukti efektivitas diplomasi ekonomi tersebut, Teddy mencontohkan hasil kunjungan kerja Presiden Prabowo ke wilayah Asia Timur pada awal tahun ini. Menurut catatan pemerintah, lawatan ke Jepang dan Korea Selatan pada akhir Maret 2026 berhasil mengamankan komitmen investasi senilai kurang lebih Rp 575 triliun.

Meskipun demikian, terdapat rincian menarik jika angka klaim investasi tersebut disandingkan dengan data resmi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Berdasarkan laporan berkala BKPM, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) murni selama Presiden Prabowo memimpin tercatat sebesar Rp 1.396,7 triliun.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, roda ekonomi dalam negeri justru bergerak lebih kencang melalui Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang menyentuh angka Rp 1.486,1 triliun. Jika ditotal secara keseluruhan, akumulasi dari kedua sumber modal ini sebenarnya mencapai Rp 2.882,8 triliun, dengan porsi PMA sebesar 48,45 persen dan PMDN menguasai 51,55 persen.

Analis data menunjukkan bahwa nominal Rp 2.430 triliun yang disebut oleh Sekretaris Kabinet merujuk pada penggabungan total PMA dan PMDN sepanjang periode triwulan I hingga triwulan IV tahun 2025, yang kemudian ditambah dengan capaian triwulan I tahun 2026.

Pada rentang waktu tersebut, komposisi modal domestik (PMDN) mendominasi sebesar 52,64 persen, sedangkan modal dari luar negeri (PMA) berada di angka 47,36 persen.

Mengingat agenda pelantikan Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia baru terlaksana pada 20 Oktober 2024 (masuk dalam periode triwulan IV), maka perhitungan riil untuk performa investasi asing (PMA) murni sejak awal masa jabatannya hingga triwulan I tahun 2026 adalah sebesar Rp 1.396,7 triliun.

Pergerakan angka-angka ini memperlihatkan bahwa portofolio investasi Indonesia dalam 18 bulan terakhir tetap terjaga berkat kolaborasi kuat antara mPresiden Prabowoodal asing dan geliat pengusaha lokal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *