Rupiah Terhempas ke Level 17.370 Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah dan Kebijakan Ketat Federal Reserve

Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.370 per dolar AS pada Kamis (30/4) pagi, melemah 44 poin atau 0,26 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau kembali mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan Kamis pagi. Berdasarkan data pasar terkini, mata uang Garuda berada di posisi Rp17.370 per dolar AS, menunjukkan pelemahan sebesar 44 poin atau merosot 0,26 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya.

Kondisi lesunya nilai tukar domestik ini terjadi di tengah dinamika pasar valuta asing di kawasan Asia yang bergerak secara variatif. Meskipun rupiah tertekan, sejumlah mata uang tetangga justru menunjukkan performa positif. Tercatat, yuan China berhasil menguat tipis 0,01 persen, disusul oleh peso Filipina yang naik 0,25 persen. Tren penguatan juga dialami oleh dolar Singapura sebesar 0,07 persen, yen Jepang 0,09 persen, won Korea Selatan 0,16 persen, serta dolar Hong Kong yang naik tipis 0,03 persen. Sebaliknya, ringgit Malaysia turut merasakan dampak negatif dengan depresiasi sebesar 0,26 persen terhadap dolar AS.

Menanggapi fenomena ini, Lukman Leong, seorang analis mata uang dari DOO Financial Futures, memberikan pandangannya mengenai penyebab utama di balik merosotnya nilai tukar rupiah. Menurutnya, faktor eksternal dan ketidakpastian global menjadi beban berat bagi mata uang lokal saat ini.

“Rupiah diperkirakan kembali melemah terhadap dolar AS oleh kekhawatiran investor seputar prospek perdamaian di Timur Tengah. Kenaikan indeks dolar AS merespon hasil FOMC yang lebih hawkish, dan harga minyak dunia yang kembali naik setelah Trump mengatakan akan terus memblokade Hormuz hingga ada kesepakatan nuklir,” ujar Lukman dalam keterangannya, dilansir CNNIndonesia.com, Kamis (30/4/2026).

Sentimen negatif dari kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung tetap ketat (hawkish) pasca pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) telah memicu penguatan indeks dolar global secara luas. Hal ini secara otomatis menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Selain itu, ancaman blokade di Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga minyak dunia menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap inflasi global dan stabilitas ekonomi makro.

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut, Lukman memproyeksikan bahwa sepanjang hari ini rupiah masih akan bergerak dalam zona volatilitas yang cukup lebar. Ia memperkirakan pergerakan rupiah akan tertahan dalam rentang harga Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS. Para investor disarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan isu geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan energi Amerika Serikat yang dapat sewaktu-waktu mengubah arah pergerakan pasar valuta asing secara drastis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *