YOGYAKARTA – Ruang aman bagi gerakan sipil dan aktivisme mahasiswa kembali mendapat ancaman serius. Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2025, Tiyo Ardianto, menjadi sasaran dugaan penguntitan oleh pihak misterius.
Sebuah perangkat pelacak digital ditemukan tertempel pada bagian bawah mobil yang ia kendarai sesaat setelah mengikuti demonstrasi “Gejayan Memanggil” di Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026).
Insiden ini mulai terkuak ketika mahasiswa Program Studi S1 Filsafat UGM tersebut menerima peringatan mencurigakan pada telepon genggamnya saat perjalanan pulang. Sistem mendeteksi adanya perangkat asing yang membayangi pergerakannya secara konstan.
“Alat pelacak yang bernama PBX Finder ditemukan bergerak bersama saya,” ujar Tiyo saat membacakan notifikasi yang diterimanya.
Guna memastikan indikasi tersebut, Tiyo menghentikan kendaraan dan memeriksa kolong mobil hitam milik saudaranya yang sengaja ia pinjam demi alasan keamanan belakangan ini. Di sanalah ia menemukan satu unit gawai pelacak komersial, PBX Finder, yang melekat pada rangka bodi.
Atas saran dari kerabat dekatnya untuk mematikan fungsi pemancar sinyal, alat tersebut langsung direndam ke dalam air. Tiyo menegaskan tidak mengetahui aktor di balik pemasangan instrumen intelijen tersebut.
“Saya tidak tahu siapa yang pasang alat pelacak itu,” kata Tiyo.
Kondisi ini memicu respons kritis dari Tiyo. Ia menilai tindakan spionase fisik ini bukan sekadar teror personal, melainkan pola usang yang kerap diadopsi kekuasaan untuk meredam gelombang kritik dari masyarakat sipil terhadap kebijakan pemerintah. Pemasangan alat intai di ranah domestik dinilai sudah melanggar batas kewajaran dan mencederai iklim demokrasi.
Skala intimidasi ini disinyalir meluas ke ranah digital. Tiyo membeberkan bahwa pola gangguan serupa berupa pesan singkat dari nomor tak dikenal juga menyerang puluhan pengurus BEM UGM secara serentak sejak hari aksi demonstrasi berlangsung.
“Belum didata berapa banyak, tapi kemungkinan sekitar 30-an,” katanya terkait jumlah rekan yang mengalami gangguan siber.
Pendekatan represif dan koersif berupa pengawasan rahasia serta pembungkaman suara kritis dinilai sebagai kemunduran besar. Tiyo menegaskan, aspirasi yang disuarakan oleh mahasiswa merupakan representasi kepedulian publik untuk meluruskan jalannya pemerintahan, bukan tindakan subversif yang harus direspons dengan ancaman atau pembatasan ruang gerak.
Sebagai penutup, aktivis filsafat ini merefleksikan getirnya realitas demokrasi hari ini, di mana kepedulian warga negara terhadap perbaikan bangsanya justru dibalas dengan tindakan pembungkaman yang membahayakan keselamatan.
“Kritik itu dilakukan atas dasar ketulusan cinta kepada Tanah Air. Betapa berbahayanya menjadi manusia Indonesia yang mencintai bangsanya. Kita beri obat untuk penyakit-penyakitnya, tapi ia justru mencoba meracuni kita,” ujarnya.






