SEMARANG — Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. Ir. Sugeng Santoso, M.T., QRGP., CGRE, mendorong penguatan hilirisasi pangan lokal sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperkuat perekonomian daerah dan desa.
Hal tersebut disampaikan Sugeng Santoso dalam Final Showcase Lumbung Karya Indonesia bertema “Inovasi Karya Pangan Lokal” yang digelar di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan yang merupakan kolaborasi Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA), STAPA, dan Impala tersebut mempertemukan sekitar 250 pelaku ekonomi pangan lokal dalam rangkaian proses seleksi dan pengembangan inovasi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 25 peserta terpilih sebagai finalis dan kemudian menghasilkan lima pemenang dari lima kategori.
Dalam paparannya, Sugeng menempatkan pangan lokal bukan hanya sebagai komoditas pertanian, tetapi sebagai bagian dari kekuatan ekonomi daerah yang perlu dikembangkan melalui proses hilirisasi.
Menurut Sugeng, pengembangan pangan lokal membutuhkan keterhubungan antara berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, UMKM, inovator, lembaga pendidikan, teknologi, pendanaan, hingga pasar.
Ia menekankan bahwa inovasi pangan tidak cukup hanya menghasilkan produk baru. Inovasi juga harus mampu mempertemukan sisi pasokan dengan kebutuhan pasar, sehingga produk yang dihasilkan memiliki peluang untuk berkembang secara berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, pemerintah daerah dinilai memiliki peran penting untuk memperkuat ekosistem produk lokal, termasuk melalui fasilitasi pengembangan usaha dan perluasan akses pasar.
Sugeng juga menyoroti potensi belanja pemerintah sebagai salah satu stimulus ekonomi. Penyerapan produk lokal melalui belanja pemerintah, menurut materi yang disampaikannya, dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas pasar produk UMKM sekaligus mendorong perputaran ekonomi di daerah.
Pandangan tersebut menempatkan hilirisasi sebagai proses yang lebih luas daripada sekadar mengolah bahan mentah menjadi produk. Hilirisasi mencakup peningkatan kualitas, pengembangan produk, pengemasan, penciptaan merek, akses pasar, hingga pembentukan model usaha yang mampu memberikan nilai ekonomi lebih besar kepada masyarakat.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi juga menekankan pentingnya mengubah bahan lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Ia mendorong setiap kabupaten dan kota untuk mengembangkan produk unggulan berbasis potensi lokal bersama pelaku UMKM.
“Bahan lokal ini tidak hanya sekadar dibuat menjadi produk, tetapi harus mempunyai nilai tambah,” ujar Luthfi.
Menurut Luthfi, penguatan UMKM membutuhkan dukungan pemerintah, antara lain melalui pembinaan praktis dan teknis, akses permodalan, pemasaran, pengemasan, hingga penjualan.
Pesan tersebut memperkuat gagasan yang disampaikan Sugeng bahwa pengembangan pangan lokal tidak dapat berhenti pada peningkatan produksi. Produk lokal juga harus mampu memenuhi kebutuhan konsumen, memiliki kualitas yang baik, dikemas secara menarik, serta memiliki akses terhadap pasar yang lebih luas.
Dari Potensi Desa Menjadi Rantai Nilai Ekonomi
Wakil Sekretaris Jenderal IPDA, Muhammad Sakur, M.Sc., mengatakan tantangan berikutnya adalah bagaimana potensi pangan yang ada di desa dapat masuk ke dalam rantai nilai ekonomi yang lebih panjang.
“Yang perlu kita dorong bukan hanya bagaimana desa menghasilkan pangan, tetapi bagaimana pangan itu memiliki nilai tambah. Dari bahan baku menjadi produk, dari produk menjadi usaha, dan dari usaha menjadi bagian dari rantai ekonomi daerah,” ujar Sakur.
Menurutnya, hilirisasi perlu berjalan beriringan dengan diversifikasi. Desa tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis komoditas atau menjual hasil produksi dalam bentuk mentah. Potensi yang tersedia perlu dikembangkan menjadi berbagai produk sesuai kebutuhan masyarakat dan perkembangan pasar.







